Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Prevalensi Stunting di Kota Jogja Sentuh 11,83 Persen, Dinkes: Ada Kasus yang Belum Dipastikan Dokter Spesialis Anak

Iwan Nurwanto • Senin, 17 Maret 2025 | 21:00 WIB
Ilustrasi anak stunting.
Ilustrasi anak stunting.

JOGJA - Angka prevalensi stunting di Kota Jogja masih tergolong tinggi dengan prosentase menyentuh 11,83 persen. Meskipun demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) mengklaim bahwa jumlah kasus tersebut belum dapat dipastikan karena belum ada diagnosa.

Kepala Dinkes Kota Jogja Emma Rahmi Aryani mengatakan, prevalensi stunting 11,83 persen menurutnya masih cukup aman. Sebab masih jauh dibawah rerata nasional yang angkanya menyentuh 14 persen.

Emma pun menyebut, prevalensi stunting di Kota Jogja kemungkinan juga bisa rendah dari yang dicatatkan sekarang. Dikarenakan beberapa kasus belum dipastikan oleh tenaga kesehatan seperti dokter. Dalam artian, yang tercatat sekarang masih dalam kategori potensi stunting.

Disebutnya, tinggi badan anak atau balita memang biasanya menjadi salah satu kewaspadaan. Sebab tinggi yang dibawah rata-rata normal memiliki potensi stunting. Namun agar dapat dipastikan stunting tentu harus menjalani berbagai tahap pemeriksaan dan melihat gejala lain.

“Jadi (kasus di Kota Jogja) sebetulnya bukan stunting murni, tapi ini adalah (anak) yang pendek dan sangat pendek. Karena sebenarnya diagnosa stunting itu harus oleh dokter spesialis anak,” ujar Emma, Senin (17/3/2025).

Emma melanjutkan, bahwa saat ini pihaknya juga fokus terhadap penurunan prevalensi stunting di kelurahan Tahunan dan Sorosutan. Kedua kelurahan di kemantren Umbulharjo itu diketahui memiliki prevalensi stunting itu cukup tinggi dibanding kelurahan lain. Lantaran prevalensi di dua wilayah tersebut menyentuh 11 persen.

Upaya penanganan yang dilakukan, kata dia, Dinkes Kota Jogja akan lebih memaksimalkan peran kader dengan memberikan tambahan keterampilan dan pengetahuan. Sehingga nantinya kader yang sudah tersebar pada tiap-tiap kelurahan bisa mendampingi keluarga dengan anak pengidap stunting.

“Posyandu kita ada 622 titik, dan tiap posyandu ada lima kader, kesehatan” terang Emma.

Sebelumnya, Ketua Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Jogja Iswari Paramita menyampaikan, program penanganan stunting tidak hanya menyasar balita. Namun juga remaja putri sebagai langkah pencegahan dini. Serta ibu hamil melalui pemantauan pertumbuhan anak sejak masa kehamilan.

Salah satu kegiatan pencegahan stunting yang menyasar remaja putri adalah melalui program konsumsi tablet tambah darah. Program tersebut menyasar kalangan remaja putri dengan pelaksanaan di sekolah-sekolah.

Sebab para remaja putri nantinya juga akan mengandung dan memiliki anak. 

“Langkah ini juga dipadukan dengan edukasi tentang ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan (PMT), dan sinergi lintas sektor,” ungkap Paramita. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kota Jogja #Stunting #dokter spesialis