Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya reboisasi dan pelestarian lingkungan di kawasan lereng Gunung Merapi yang telah mengalami kerusakan akibat erupsi besar pada 2010.
Menanam untuk Pasokan Air yang Berkelanjutan
HB X menjelaskan bahwa selain dampak erupsi Merapi yang mengurangi ketersediaan air, faktor lain seperti pertumbuhan penduduk yang pesat dan pembangunan infrastruktur turut mempengaruhi pasokan air di DIY.
Apalagi DIY membutuhkan pasokan air sekitar 800 liter per detik, kini menghadapi tantangan besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.
"Lereng Merapi tidak akan mencukupi pasokan air seperti dulu. Beberapa tahun lalu, sekitar 200 hektare di sebelah barat terbakar. Meskipun kembali tumbuh, namun kawasan tersebut tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan air secara optimal," ungkap HB X.
Pelestarian Alam untuk Masa Depan yang Lestari
HB X mengungkapkan bahwa pelestarian lingkungan di kawasan lereng Merapi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Melalui gerakan tanam pohon yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, ia berharap kesadaran akan pentingnya menjaga alam semakin meningkat, terutama di kalangan generasi muda.
“Dengan gerakan ini, saya berharap lingkungan kita tidak hanya terjaga, tetapi semakin membaik. Semakin banyak pohon yang ditanam, semakin banyak mata air baru yang akan muncul. Hal ini memungkinkan masyarakat, terutama di Sleman, untuk mendapatkan pasokan air dengan lebih baik,” tambah Sri Sultan.
Kontribusi Bersama Menjaga Alam
Kegiatan reboisasi ini juga melibatkan pemuda lintas agama, yang menjadi simbol persatuan dalam menjaga alam.
Gerakan ini menunjukkan bahwa berbagai kelompok di masyarakat dapat bersatu dengan tujuan yang sama, yaitu pelestarian alam dan lingkungan.
"Kesadaran ini harus tumbuh di kalangan anak-anak muda kita, agar mereka memiliki kemauan dan komitmen untuk menjaga lingkungan mereka," ujarnya.
Penulis: Abel Alma Putri