JOGJA- Korban penyiraman air keras, Natasya Hutagalung merupakan mahasiswi Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa APMD Jogja, jurusan Ilmu Pemerintahan. Jajaran birokrasi kampus berjanji akan mendampingi korban.
"Yang jelas pihak kampus tetap mendampingi ya, mendampingi dalam arti memastikan semua berjalan dengan baik," ujar Wakil Ketua III kampus STPMD (APMD), Tri Agus Susanto saat dikonfirmasi, Jumat (27/12/2024).
Baca Juga: PSS Sleman Tutup 2024 dengan Pesta Gol, Bantai Madura United 4-0 di Stadion Manahan Solo
Pendampingan tersebut meliputi kesehatan maupun dalam proses hukum. Setelah Natasya sembuh, pendampingan dalam aspek akademis juga akan dilakukan.
"Kami akan memastikan menunggu sampai yang bersangkutan bisa masuk kembali ke kampus," tuturnya.
Natasya berpotensi mengalami trauma pasca sehat. Hal itu otomatis berdampak pada akademik. Dengan demikian, kampus juga akan melakukan pendampingan secara psikologis.
Baca Juga: Jadi Pusat Keramaian, Kantong Parkir Alun-Alun Pancasila Kebumen Bakal Ditutup
"Mungkin dia ke kampusnya jadi agak tidak sering dan seterusnya, itu bagian dari pendampingan," jelasnya.
Pihaknya juga mengatakan adanya dispensasi akademis yang akan diberikan kepada korban. Seperti tidak mengikuti kegiatan perkuliahan selama tahap penyembuhan. Itu juga berlaku bagi mahasiswa yang sedang mengalami musibah.
Baca Juga: Toko Sembako di Ponjong Gunungkidul Dilalap Api, Tabung Gas Terbakar Habis Kerugian capai Rp 20 Juta
"Ada kecelakaan misalnya lalu yang bersangkutan lama di rumah sakit, juga memperoleh pendampingan khusus," bebernya.
Natasya merupakan mahasiswi semester lima, Jurusan Ilmu Pemerintahan. Pihak kampus dari hari pertama hingga saat ini bergantian untuk mendampingi korban yang dirawat di RSUP Dr Sardjito.
"Yang jelas (luka) wajah, dan sebagian tubuh di bagian depan tapi wajah itu nyaris menyeluruh," jelasnya.
Berdasarkan informasi yang ia terima dari teman Natasya. Beberapa hari sebelum kejadian, teman kos nya mencurigai gerak-gerik orang tak dikenal. Bahkan, salah satu teman kos sempat memfoto gerak gerik orang tersebut.
"Ada orang-orang yang lihat-lihat seperti tukang ojek, bukan sedang mencari orang tapi sedang mengamati penghuni di situ," terangnya. (oso)
Editor : Sevtia Eka Novarita