JOGJA - Pertanian menjadi salah satu yang terdampak cuaca ekstrem berupa hujan deras di DIY belakangan ini. Banyak persawahan yang kemudian terendam luapan air hingga menyebabkan tanaman padi rusak."Paling banyak di Kabupaten Bantul, sekitar 140.28 hektare," ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Syam Arjayanti saat dikonfirmasi, Kamis (19/12).
Tanaman padi yang rusak rata-rata masih berusia dua minggu. Artinya, tanaman masih kecil dan rentan layu dan mati. Terlebih jika diporak-porandakan oleh luapan sungai, hujan dan angin kencang.
Melihat hal itu DPKP DIY menyediakan bantuan benih padi bagi para petani terdampak. "Kami kebetulan pas tidak ada (stok benih), maka minta ke pusat, Dirjen TP Kementerian Pertanian. Dari pusat bisa mengadakan," tuturnya.
Area persawahan yang menjadi lokasi paling parah berada di Kalurahan Poncosari, Srandakan, Bantul. Pendistribusian bantuan dilakukan melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Poncosari yang terdiri atas beberapa anggota petani setempat. "Itu juga sebagai kompensasi bagi petani atas kerugian yang timbul akibat banjir," bebernya.
Dalam data yang dihimpun, terdapat tujuh Gapoktan yang mendapatkan bantuan benih padi. Masing-masing mendapatkan jumlah bantuan benih yang berbeda, sesuai dengan luasan lahan yang rusak.
Mulai dari Gapoktan Pandan Asih I mendapatkan 471 kg benih, Lembah Subur sebanyak 642 kg, Gemi 395 kg, Werdi Dadi I 374 kg, Werdi Dadi II 395 kg, Ngudi Raharjo II 640 kg dan Eka Lestari 590 kg. "Total ada 3.507 kg benih padi jenis Inpari 32 yang dipersiapkan," tegasnya.
Penyerahan dilakukan mulai bulan ini, sehingga para petani bisa menanam padi awal Januari nanti. Varietas Inpari 32 dinilai cocok untuk kondisi tanah dan iklim di wilayah tersebut. "Perkiraan sekitar tiga hari lagi benih akan sampai semuanya," katanya.
Pihaknya saat ini sedang dalam proses peninjuan di lahan-lahan yang aman dari banjir atau luapan air. Lahan itu nantinya sekaligus untuk proses persemaian benih. "Penanamannya tentu mununggu informasi prakiraan cuaca dari BMKG," jelasnya.
Baca Juga: Libur Nataru, Kendaraan Angkutan Barang Dilarang Melintas di Jalan Wonosari Pukul 05.00-22.00
Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), akan ada potensi eskalasi cuaca ekstrem di DIY dan Jateng, 16-23 Desember. Hal itu berbarengan masuknya Monsun Asia yang membawa uap air sehingga menurunkan hujan pada puncak musim hujan.
Selain itu, kondisi Samudera Pasifik yang semakin mendingin karena wilayah perairan yang menghangat menjadikan peningkatan terhadap curah hujan. Fenomena itu biasa disebut La Nina Lemah yang diperkirakan curah hujan naik hingga 20 persen. (oso/laz)
Editor : Din Miftahudin