Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perpaduan Pameran Seni Rupa dan Arsip Sastra di FKY 2024, Hadirkan Pengalaman Berbeda Dalam Satu Tempat Sekaligus

Khairul Ma'arif • Senin, 14 Oktober 2024 | 02:04 WIB

 

 

 

 

 

 

Sejumlah karya yang dipamerkan dalam pameran seni rupa dan arsip sastra
Sejumlah karya yang dipamerkan dalam pameran seni rupa dan arsip sastra

BANTUL - Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 menghadirkan perpaduan pameran seni rupa dan arsip sastra dalam satu ruang yang sama. Pergelarannya di MCC Tepi Sabin, Bawuran, Pleret, Bantul menghadirkan pengalaman berbeda dalam mengunjungi pameran. Itu karena dua karya yang berbeda ditampilkan dalam sati tempat sekaligus sehingga pengunjung mendapat pengalaman yang lengkap.

 Baca Juga: Temu Giring, FKY di Gunungkidul Tampilkan Warisan Budaya Tak Benda

Pameran tersebut bertajuk Azimat Siasat yang menghadirkan berbagai perupa dan koleksi arsip sastra dari banyak kalangan. Pemrogram Pameran Seni Rupa Azimat Siasat Karen Hardini mengatakan, pameran seni rupa diikuti perupa dari berbagai lintasan zaman. Pasalnya, bocah berusia delapan tahun pun turut serta memerkan karyanya.

 

Menurutnya, dalam pameran ini dilakukan riset di Segoroyoso yang dikenal dengan jagal hewan sapi, kambing, dan kuda. Sebagai wilayah pemasok daging terbesar di DIY menjadikan masyarakat memiliki memori kolektif bersama sehingga jadi satu peristiwa menarik. "Dari situ ada satu karya yang diolah menjadi komik di atas kulit sapi yang turut dipamerkan," ucapnya, Minggu (13/10/2024).

 Baca Juga: Meraapat Luuuur! FKY 2023 Dibuka Gratis, Siap Bernostalgia dengan Kuliner Tradisional Nusantara

Karena menuturkan, tajuk Azimat Siasat diambil menjadi representasi tema FKY 2024 tersendiri. Karya seni rupa yang menjadi sebuah benda bagi pemilik atau dari perupanya. Azimat merupakan sebuah benda yang dipercayai memiliki kekuatan bagi pemiliknya. Lantas Azimat diyakini dapat bersiasat untuk bertahan hidup.

 

25 perupa turut serta dalam pameran seni rupa yang diseleksi dari panggilan terbuka yang dilakukan. Karen menyebut, ada sekitar 80an yang turut serta panggilan terbuka dan dikecilkan menjadi 25 perupa. "Kami ada tiga pemrogram dari seni rupa, saya Ahmad Fiqi, dan Tomi Firdaus," tegasnya.

 Baca Juga: Festival Kebudayaan Yogyakarta 2024 Angkat Tema Umpak Buka, KGPAA Paku Alam X Sebut Tak Hanya Selebrasi Budaya, tapi Turut Pengaruhi Sektor Lain

Sementara itu, dari pameran arsip sastra menghadirkan sekitar 800 hingga seribu arsip dengan berbagai macam bentuk. Ada yang majalah, buku, poster, koran, kaset, disket, VCD, album foto, dan ada juga artefak mesin ketik. Staf pemrogram pameran arsip sastra Raihan Robby mengatakan, pameran kali ini menghadirkan berbagai arsip sastra Yogyakarta yang sangat minim dikenali.

 

Diharapkannya keberadaan pameran arsip sastra ini dapat menghadirkan museum sastra Yogyakarta di kemudian hari. "Ini adalah titik awal bisa terwujud Museum Sastra Yogyakarta untuk jangka panjangnya," bebernya. Menurutnya, pameran arsip sastra disandingkan dengan pameran seni rupa karena memang selalu demikian dalam banyak pergelaran FKY tiap tahunnya.

 Baca Juga: Festival Kebudayaan Yogyakarta 2024 Angkat Tema Umpak Buka, KGPAA Paku Alam X Sebut Tak Hanya Selebrasi Budaya, tapi Turut Pengaruhi Sektor Lain

Dia mengungkapkan, arsip sastra yang dipamerkan dipinjam dari tokoh sastra, pengarsip, dan komunitas sastra. Selain itu, diambil dari Keraton yang bersumber di TBY dan BBY. Dalam proses pengumpulan arsipnya dilakukan selama beberapa bulan terakhir.

 

Rekam jejak sastra sejak 1943 hingga 2024 dihadirkan dalam pameran ini. "Ada Mahatmanto yang barangkali tidak banyak dikenal seorang Penyair dari Kulon Progo karyanya dimuat di Gema Tanah Air bersanding dengan Chairil Anwar," tuturnya. Robby mengaku, ada beberapa memang yang arsip dalam berbentuk repro tetapi lebih banyak yang asli.

 

Dia menilai, Yogyakarta butuh museum sastra karena menjadi satu lokus yang menghadirkan pertemuan banyak sastra. Tidak hanya itu, tetapi juga menghadirkan banyak sastrawan yang bersaing di lingkup nasional. Menurutnya, penting melihat arsip sastra masa lalu untuk mengetahui eksplorasi karya, cara penyebaran yang dapat diketahui dalam pameran arsip sastra. (rul).

Editor : Din Miftahudin
#FKY #2024 #pleret #Seni #Festival Kebudayaan Yogyakarta #Bantul #pameran seni #Bawuran