Sebelum stasiun bahan bakar umum (SPBU) menjamur seperti sekarang, kios bensin eceran menjadi andalan para pengendara motor dan mobil. Tak hanya sekadar tempat membeli bahan bakar, kios bensin eceran zaman dulu juga menjadi pusat interaksi sosial.
Mantan konsumen bensin eceran Ervan Bambang Dermanto masih ingat masa-masa bersama ayahnya mengisi bensin di kios pinggir jalan. "Bensin dalam drum dialirkan dan ditampung ke wadah. Kemudian diciduk menggunakan tempat takaran minyak warna gelap," katanya.
Takaran minyak kecil sudah ada tulisannya. Misal satu liter dan seterusnya. Kemudian penjual menuangkan bensin ke dalam lubang tangki sepeda motor."Saya juga sering melihat penjual pakai alat pompa manual mengisi bensin dengan tangan, diukur langsung," kenangnya sambil tersenyum.
Tak hanya itu, bapak satu anak ini menyebut bensin eceran dijual dalam botol kaca biasanya ditata rapi di etalase kecil. "Botol-botol berisi bensin jadi ciri khas kios," ucapnya.
Satu botol biasanya cukup untuk jarak beberapa kilometer. Jadi pas pengendara mulai kehabisan, mereka berhenti di kios-kios.Baca Juga: Kehabisan Bensin, Tiga Bocah SMP di Saptosari Gunungkidul Nekat Bobol Kotak Amal Masjid
Menurut Ervan, kios bensin eceran zaman dulu menjadi solusi di tengah keterbatasan. Saat belum banyak SPBU, terutama di desa, sering beli bensin di kios dekat rumah."Penjualnya ramah, kadang bisa utang dulu kalau lagi nggak ada uang," ucapnya sembari tertawa.
Kini, meski sudah banyak SPBU modern, kenangan akan bensin eceran zaman dulu tetap melekat di hati mereka yang pernah mengalami. "Bukan cuma soal bensin, tapi lebih ke suasananya," terangnya.
Dulu, menurut Ervan, membeli bensin sambil ngobrol panjang lebar sama penjual, ada kedekatan yang sekarang rasanya sulit didapat. "Zaman sudah berubah, saya bersyukur bisa melewati masa-masa penuh kenangan itu," kata Ervan. (gun/laz)
Editor : Din Miftahudin