Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Waspada! Dinkes Kota Jogja Catat Ada 227 Kasus Demam Berdarah Dengue DBD di Periode Januari-September 2024

Iwan Nurwanto • Jumat, 27 September 2024 | 00:10 WIB
Ilustrasi nyamuk demam berdarah.
Ilustrasi nyamuk demam berdarah.

JOGJA - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) cukup menjadi ancaman di Kota Jogja. Pasalnya, hingga bulan ini Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat sudah mencatat ratusan kasus.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, dari periode Januari hingga September pihaknya sudah mencatat 227 kasus DBD. Ratusan kasus itu tersebar 45 kelurahan dari 14 kemantren di wilayah tersebut. Beruntungnya, untuk kasus meninggal dunia masih nihil.

Endang membeberkan, dari ratusan kasus DBD di Kota Jogja ada beberapa kelurahan yang temuannya cukup banyak atau mencapai belasan kasus. Misalnya di kelurahan Sorosutan yang jumlahnya 17 kasus, lalu di Wirogunan dengan 14 kasus, kemudian di Kricak dengan 15 kasus, serta di Pakuncen dengan temuan 11 kasus.

“Sementara untuk kelurahan lainnya, temuan kasus DBD rata-rata mencapai satu hingga sepuluh kasus,” ujar Endang saat dikonfirmasi, Kamis (26/9).

Dia pun meminta agar masyarakat mulai mewaspadai peningkatan kasus DBD. Sebab nyamuk Aedes aegypti yang berperan menyebarkan penyakit DBD akan mudah berkembang biak ketika memasuki musim hujan seperti sekarang.

Oleh karena itu, Endang pun mengimbau agar masyarakat mulai sering melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Upayanya dapat dilakukan dengan menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, mengubur dan mendaur ulang barang bekas tidak terpakai.

“PSN dengan 3M cukup efektif untuk mengurangi perkembangbiakan nyamuk,” bebernya.

Disamping DBD, masyarakat juga diminta berhati-hati dengan penyebaran penyakit leptospirosis. Yakni penyakit yang disebarkan melalui urine hewan pengerat seperti tikus.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Jogja Lana Unwanah menyampaikan, penyebaran leptospirosis semakin meningkat seiring masuknya musim penghujan. Sebab genangan air mulai kerap muncul dan tidak jarang terkontaminasi bakteri leptospira.

Lana menjelaskan, masa inkubasi Leptospirosis biasanya rata- rata 7 - 10 hari. Gejala tubuh yang terinfeksi leptospirosis berupa demam, nyeri kepala, nyeri otot terlebih pada daerah betis, paha. Selain itu juga muncul tanda-tanda berupa mata kuning dan tidak kencing sampai enam jam pasca 2-5 hari terinfeksi.

Adapun untuk tahun ini hingga bulan Agustus kasus leptospirosis di Kota Jogja ditemukan enam kasus. Dari jumlah tersebut satu orang diketahui meninggal dunia.

“Apabila mengalami gejala, segera memeriksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit atau puskesmas terdekat,” pesan Lana. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kota Jogja #Dinas Kesehatan Kota Jogja #DBD #demam berdarah dengue