RADAR JOGJA - Prosesi adat numplak wajik menjadi rangkaian Garebeg Mulud di Panti Pareden, Kompleks Magangan, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, kemarin (13/9. Ada enam gunungan yang akan dibagikan saat Gerebeg Mulud, Senin nanti (16/9).
Inti dari upacara numplak wajik adalah proses menuang seluruh adonan wajik di salah satu gunungan dengan cara membalikkan wadahnya. Biasanya, proses ini dilakukan tiga hari sebelum acara Gerebeg Mulud dilaksanakan.
Sekitar pukul 15.30, rombongan abdi dalem yang dipimpin putri sulung Sultan Hamengku Bawono Ka 10, GKR Mangkubumi, datang dari utara melalui Regol Kemagangan. Gejog lesung yang ukurannya lebih dari dua meter, ditabuh oleh delapan abdi dalem perempuan, mengiringi kedatangan GKR Mangkubumi.
Upacara numplak wajik dibuka dengan doa yang dipimpin seorang abdi dalem. Selanjutnya jodhang (landasan gunungan) mulai dipersiapkan. Alunan musik dari gejog lesung pun kembali diperdengarkan. Gendhing (lagu) yang dipilih yakni Tundhung Setan (pengusir setan).
Sembari gendhing berjalan, adonan wajik ditumplak pada jodhang lalu rangka gunungan estri dipasang. Setelah selesai, terdapat prosesi mengoles singgul pada jodhang. Sinjang songer (kain panjang) kemudian dililitkan pada rangka gunungan. Semekan bangun tulak (kain penutup yang biasa digunakan perempuan) juga dililitkan di lapisan paling luar.
Alunan gejog lesung yang berhenti merupakan pertanda proesi numplak wajik telah selesai. Singgul kemudian dibagikan kepada abdi dalem dan masyarakat yang hadir. Prosesi terkahir yakni membuka sinjang songer dan semekan bangun tulak sekitar pukul 16.00.
GKR Mangkubumi mengatakan, prosesi ini merupakan bagian dari persiapan Garebeg Mulud. Enam gunungan yang dibuat merupakan simbol pemberian Ngarso Dalem atau raja Keraton Jogja untuk masyarakat.
"Ini juga untuk nyuwun pangestu (memanjatkan doa) agar acara lancar sampai selesai," ujarnya saat ditemui pasca acara tumplak wajik, kemarin (13/9).
Carik Kawedanan Radya Kartiyasa Nyi Raden Riya Noorsundari mengatakan, terdapat enam jenis gunungan yang dibuat. Dua gunungan jaler (pria), satu gunungan estri (perempuan), gunungan gepak, gunungan darat dan gunungan pawuhan.
Terkait Singgul, ia menyampaikan singgul merupkan ramuan tradisional dari rempah-rempah yakni dlingo dan bengle yang ditumbuk. Tradisi di Jogjakarta, dulu apabila ada acara penganten atau sripah (kematian) akan disediakan singgul. "Saat menyebar udhik-udhik, uang logam yang disebar juga mengandung singgul," ujarnya.
Baca Juga: Sambut Laga Perdana, Panpel PSIM Cetak 10 Ribu Tiket
Singgul biasanya akan dioleskan pada bagian-bagian sensitif tubuh manusia. Di antaranya di belakang telinga, tumit dan urat nadi. "Secara logis kenapa di belakang telinga karena kulit di area itu relatif tipis. Jadi jamu-jamuan singgul dapat meresap lebih sempurna," tuturnya.
Antusiasme masyarakat juga terlihat ketika para abdi dalem mulai membagikan singgul. Bagi masyarakat, singgul dipercaya untuk menghilangkan atau menangkis 'sawan' (penyakit).
Salah seorang warga Kemantren Kraton, Jogja, Wahyuningsih, 60, mengatakan, dirinya sengaja menghadiri tumpak wajik salah satunya untuk mendapatkan singgul. Ia percaya dengan mengoleskan singgul di beberapa bagian tubuhnya dapat menambah kesehatan karena termasuk ramuan tradisional. "Saya oleskan di kaki, tangan dan belakang telinga," bebernya. (oso/laz)
Editor : Heru Pratomo