RADAR JOGJA - Kesiapsiagaan dan tanggap bencana megathrust di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dinilai lebih siap. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mengklaim tidak perlu mengeluarkan surat edaran (SE) seperti daerah lain.
Misalnya yang dilakukan oleh Pemprov Jawa Tengah. Kepala Pelaksana BPBD DIY Noviar Rahmad menyebut tidak perlu mengeluarkan surat edaran seperti itu. “Karena masyarakat sudah mengerti semua terkait dengan megathrust," ujarnya, Senin (2/9/2024).
Menurutnya kesiapsiagaan sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu oleh BPBD maupun BMKG DIY. Simulasi, edukasi dan sosialisasi telah diselenggarakan terutama untuk masyarakat pesisir pantai.
Salah satu bekal pelatihan yakni ASEAN Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise (ARDEX) yang diselenggarakan 2023. "Latihan bersama terkait dengan menghadapi megathrust diikuti oleh TNI se ASEAN dan simulasi kesehatan yang diadakan di Jogja," tuturnya.
Selain itu, masyarakat di sepanjang Pantai Glagah yakni di enam kelurahan telah diberikan edukasi dan pemasangan jalur evakuasi. Kemudian BMKG juga telah melakukan kegiatan serupa di sepanjang pantai di wilayah Gunungkidul. "Tahun ini sedang dilakukan kegiatan serupa di sepanjang pantai wilayah Bantul," jelasnya.
Dikatakannya, tiga wilayah yakni Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo menjadi daerah potensial terdampak sunami saat gempa Megathrust benar terjadi. Artinya dengan upaya tersebut, masyarakat Jogja sudah lebih siap untuk menghadapi bencana."Namun bukan berarti kita mengabaikan terkait dengan peringatan (megathrust) dari BMKG. Perlu ada kerja sama multi pihak karena waktunya tidak ada yang tahu," bebernya.
Noviar juga berpesan terkait mitigasi bagi masyarakat. Salah satunya yakni menyiapkan tas kebencanaan. Tas bencana hanya dibawa ketika ada bencana yang tidak diharapkan atau darurat. "Kemudian mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul, menjauhi bangunan yang tidak tahan gempa," tandasnya. (oso/din)