RADAR JOGJA - Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta prof Fathul Wahid turun ke jalan mengikuti aksi Jogja Memanggil kawal Putusan Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (22/8/2024).
Dalam aksinya di Nol Kilometer, Jogja, Fathul membacakan puisi tentang keprihatinan terhadap kondisi negara oleh bengisnya kekuasaan.
"Saya tidak membacakan orasi tapi membacakan pusisi yang saya tulis dua bulan lalu.
Judulnya 'Sak Karepmu' Terserah Kamu," tutur Fathul mengawali aksinya itu.
Begini isi puisi yang dibacakan oleh Rektor UII sekaligus Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) DIY tersebut. Yuk Simak!
TERSERAH KAMU
Terserah kamu
Di tanganmu, kekuasaan laksana pedang tajam
Menebas cita-cita, melukai hati yang tenang
Di singgasana emas, kau duduk merajai malam
Mengabaikan kejujuran yang perlahan menghilang
Angin membisikkan kisah nestapa manusia
Yang terhimpit beban oleh durjana keangkuhan
Jari-jarimu menggenggam penuh tipu daya
Namun hati kecil tahu, dosa itu tak termaafkan
Terserah kamu
Di balik tirai kemewahan, kezaliman bersembunyi
Menutup telinga, suara hati tak didengarkan
Keadilan seakan takut, tak berani menunjukkan diri
Oleh uang dan kekuasaan, hukum ditundukkan
Kau abaikan janji-janji, yang pernah kau ucapkan
Mencuri mimpi rakyat, merampas hak kemanusiaan
Dalam senyuman palsu, tersembunyi kebohongan
Di matamu, kebenaran dapat disamarkan
Terserah kamu
Kepongahan menuntunmu merambah jalan nista
Menutup nurani, menghindari jerit pilu
Namun ingatlah, sejarah tak akan terlupa
Pengkhianatanmu akan tercatat di sudut waktu
Mungkin hari ini kau menang, menari di atas penderitaan
Namun tak selamanya malam menguasai dunia
Akan datang fajar, menggusur segala kekelaman
Menggugurkan takaburmu, dengan kebenaran cahaya
Terserah kamu
Teruskanlah dengan kesewenang-wenangan
Kami yang lemah, akan tetap berjuang
Di tengah kegelapan, masih ada harapan
Kejujuran dan keadilan akan kembali benderang
Fathul Wahid
Yogyakarta, 13 Juni 2024
"Kita teruskan aksi damai ini untuk rakyat Indonesia," seru Fathul mengakhiri aksinya.
Editor : Meitika Candra Lantiva