RADAR JOGJA – Lima ribu perpustakaan desa (perpusdes) di Indonesia telah bertransformasi menjadi motor penggerak sosial dan ekonomi. Perpusdes mampu menjadi ruang publik terbuka untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan penghasilan.
Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Utama Perpusnas Joko Santoso. Menurutnya, ada tiga terobosan dalam program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. "Mengedukasi masyarakat menjadi wahana pembelajaran sepanjang hayat," kata Joko Santoso usai menghadiri acara pertemuan Colombo Plan 2024 Perpusnas kemarin (12/8).
Terobosan kedua, kata dia, perpustakaan menjadi pusat kegiatan masyarakat yang berkomitmen terhadap kesejahteraan. Ketiga perpustakaan menjadi ruang publik yang terkait dengan kemajuan kebudayaan dan kearifan lokal.
"Kehadiran perpustakaan berbasis inklusi sosial membuka peluang ekonomi baru, karena adanya kegiatan pelatihan-pelatihan yang memantik kreativitas terutama anak-anak muda," bebernya.
Perpustakaan kini memiliki akses jaringan internet gratis. Sehingga dapat dimanfaatkan optimal oleh masyarakat. Melalui anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) pemkab bisa berperan dalam mengalokasikan dana sesuai kebutuhan.
"Replikasi perpustakaan berbasis inklusi membuktikan bahwa gerakan ini berhasil, sehingga pemkab mau mengalokasikan anggaran," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri Kementerian Sekretariat Negara Noviyanti mengatakan, ada 19 peserta dari 11 negara kawasan Asia-Pasifik yang menghadiri Colombo Plan. Yakni Bangladesh, Bhutan, Laos, Malaysia, Maladewa, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, Filipina, Vietnam, serta Indonesia. "Kita berkumpul di sini untuk bertukar ide, berbagi praktik terbaik, dan menjalin jaringan kolaboratif," kata Noviyanti.
Menurutnya, perpustakaan tidak lagi hanya menjadi ruang pasif untuk menyimpan pengetahuan. Namun sekarang telah menjadi pusat komunitas dinamis yang menumbuhkan kreativitas belajar, dan kohesi sosial. (gun/eno)
Editor : Satria Pradika