Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menelusuri Jejak Kelam Kota Jogja: Sarkem, Luka Lama di Balik Keindahan Kota Pelajar

Iwa Ikhwanudin • Sabtu, 20 Juli 2024 | 19:01 WIB
Kawasan Jalan Pasar Kembang, Gedong Tengen, Jogja, Senin (8/7). ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
Kawasan Jalan Pasar Kembang, Gedong Tengen, Jogja, Senin (8/7). ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA

RADAR JOGJA - Di balik gemerlapnya Yogyakarta sebagai kota pelajar dan wisata budaya, tersimpan sejarah kelam.

Yakni tentang Sarkem, sebuah tempat yang pernah menjadi salah satu tempat lokalisasi prostitusi di Indonesia. 

Sarkem, yang dulunya dikenal sebagai Pasar Kembang, telah menjadi bagian dari wajah Jogja selama lebih dari dua abad.

Keberadaannya yang kontroversial memicu perdebatan dan pertanyaan.

Terutama tentang moralitas, kemanusiaan, dan peran pemerintah dalam menangani isu sosial ini.

Sejarah Sarkem terentang jauh ke masa kolonial Belanda.

Pada tahun 1818, pembangunan rel kereta api di Yogyakarta memicu munculnya permukiman liar di sekitar stasiun.

Di sanalah aktivitas prostitusi mulai marak, dipicu oleh permintaan dari para pekerja proyek dan tentara Belanda.

Seiring waktu, kawasan tersebut berkembang menjadi lokalisasi resmi di bawah pengawasan pemerintah Hindia Belanda.

Pada tahun 1927, nama "Sarkem" resmi digunakan, merujuk pada singkatan "Sarangan Kembang".

Sarkem dihuni oleh para Pekerja Seks (Peks) yang datang dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda.

Kehidupan mereka diwarnai dengan kemiskinan, stigma sosial, dan eksploitasi.

Perlindungan hukum dan kesehatan bagi para Peks pun sangat minim.

Sejak awal berdirinya, Sarkem telah menuai kecaman dari berbagai pihak.

Berbagai upaya penutupan dilakukan, mulai dari demonstrasi, petisi, hingga lobi politik. 

Akhirnya, pada tahun 2011, Pemerintah Kota Jogja resmi menutup Sarkem.

Namun, penutupan ini tidak serta merta menyelesaikan permasalahan.

Para Peks kehilangan mata pencaharian dan harus berjuang untuk memulai hidup baru.

Meskipun Sarkem telah ditutup, bekas lokasinya masih meninggalkan luka dan stigma bagi masyarakat.

Upaya rehabilitasi dan pemberdayaan para mantan Peks terus dilakukan. 

Pemerintah dan berbagai organisasi sosial berupaya membantu mereka untuk mendapatkan pelatihan keterampilan, akses permodalan, dan pendampingan psikologis.

Sarkem menjadi pengingat bahwa isu prostitusi adalah masalah kompleks yang tidak bisa diatasi dengan solusi instan.

Diperlukan upaya kolektif dari berbagai pihak untuk memberikan perlindungan dan solusi bagi para Peks, serta mencegah kemunculan lokalisasi baru di masa depan. 

Kisah Sarkem adalah cerita kelam dalam sejarah Kota Jogja.

Namun, penutupan lokalisasi ini membuka lembaran baru untuk mewujudkan masa depan yang lebih cerah bagi para mantan Peks dan masyarakat di sekitarnya. 

Dengan edukasi, pemberdayaan, dan semangat kemanusiaan, kita dapat bersama-sama membangun masa depan yang bebas dari eksploitasi dan diskriminasi. ***

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Sarkem Jogja #Sarkem Ditutup #pasar kembang #Jogja #lokalisasi