RADAR JOGJA - Kafe atau coffe shop sering jadi pilihan favorit mahasiswa untuk mengerjakan tugas kuliah. Hal itu karena suasana kafe yang nyaman dan inspiratif. Ditambah menyediakan fasilitas seperti wifi gratis, meja dan kursi nyaman. Itu sebabnya sering ditemui kafe yang tak pernah sepi pengunjung.
Meski banyak pengunjung yang datang, hal ini tak selamanya bisa dikatakan untung. Akhir-akhir ini ramai beredar di media sosial terkait pemilik kafe yang keluhkan mahasiswa nongkrong, tapi tidak pesan apa-apa.
Berbeda dengan keluhan dari pemilik kafe itu, beberapa kafe serupa lain di Jogja masih tetap ramai pengunjung yang tertib. Tidak menyebabkan kerugian operasional. Salah satunya adalah Kafe Basabasi.
Penanggung Jawab Kafe Basabasi Cabang Kragilan Jaka Ramadhani mengatakan, karyawan di kafenya selalu menyodorkan menu kepada pengunjung yang datang. Apabila tidak kunjung memesan 5 hingga 10 menit, karyawan kafe tetap akan menunggunya.
"Kalau misal enggak juga, ya mohon maaf mending geser ke yang lain. Tapi biasanya kalau disodorin itu sudah pada pesan, walaupun cuma beli air mineral sama es teh. Nggak masalah, yang penting ada perputaran uang di situ,” ujarnya kepada Radar Jogja Minggu (23/6).
Strategi lain dari pihak kafe agar pengunjung tetap memesan adalah dengan menyediakan menu yang bervariasi. Misalnya menyediakan menu minuman varian jahe yang tidak ada di tempat nongkrong serupa lainnya. Harga yang dikenakan pada menu-menunya juga masih ramah di kantong mahasiswa.
Ia mengungkapkan, rata-rata pengunjung di kafenya didominasi mahasiswa. Terutama pada saat weekdays. Ada pula pekerja WFH yang berkunjung pada hari kerja. Selain itu, santri dari pondok pesantren di Krapyak juga kerap berkunjung.
"Rombongan biasanya banyak di malam hari, tapi tetap pada belanja. Hampir jarang yang nggak belanja, meskipun masih ada satu atau dua orang yang cuma numpang,” ungkap Jaka.
Ia menyebut, kebanyakan pengunjung membeli minuman di kafenya.
Jarang yang membeli minum karena di sekitar kafe terdapat beberapa warmindo dan warung makan. Dengan harga yang serupa, banyak mahasiswa yang memilih untuk membeli makan di tempat lain. “Urutannya yang paling sering keluar itu minum, terus snack, baru makanan berat,” katanya.
Rata-rata pengunjung menghabiskan waktu di kafenya cukup bervariasi. Ada yang nongkrong dari pagi hingga malam. Ada pula yang datang pada malam hari dan baru pulang saat dinihari, ketika kafe hendak tutup.
Jaka mengatakan, omzet yang didapat kafenya dalam sehari berkisar Rp 2,5 juta. Jumlah itu cukup untuk menutup biaya operasional dan menggaji karyawan. “Kalau omzetnya segitu, mungkin ada sekitar 100 orang yang datang dalam sehari,” jelasnya.
Ia mengaku, kafenya sendiri dulu sempat menutup menu air es.
Keputusan itu imbas dari seringnya rombongan yang berkunjung, namun hanya memesan air es. Hal itu dulu dilakukan sebelum melakukan renovasi besar-besaran pada 2023.
Sebelum renovasi, kafe ini sempat dalam kondisi hidup segan mati tak mau. Namun kini Kafe Basabasi termasuk dalam kafe yang cukup settle sebagai tempat nongkrong.
"Video viral itu sebenarnya juga cukup mewakili buat kami para pengelola kafe. Meskipun di sini nggak ada kasus yang seperti itu," ujar Jaka. (tyo/laz)