Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nilai Ekspor DIY Alami Penurunan Signifikan, Negara Tujuan Terbesar ke Amerika Serikat

Gregorius Bramantyo • Rabu, 19 Juni 2024 | 04:00 WIB
ILUSTRASI BARANG EKSPOR
ILUSTRASI BARANG EKSPOR

 


RADAR JOGJA – Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat kegiatan ekspor selama April 2024 mencapai 34,34 juta USD. Jumlah itu turun 20,66 persen dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 43,28 juta USD.

Meski turun dari bulan sebelumnya, namun jumlah itu lebih tinggi dari capaian pada April 2023. Saat itu, kegiatan ekspor mencapai 31,44 juta USD.

Kepala BPS DIY Herum Fajarwati menyampaikan, penurunan terbesar ekspor pada April 2024 dari Maret 2024 terjadi pada pakaian jadi bukan rajutan. Jumlahnya senilai 4,73 juta USD.

Sementara itu, kenaikan terbesar adalah minyak atsiri dan kosmetik wangi-wangian sebesar 0,85 juta USD.“Komoditas ekspor DIY berdasarkan golongan April 2024 paling besar pakaian jadi bukan rajutan senilai 12,99 juta USD dengan andil 37,83 persen," katanya, Selasa (18/6)

Herum menjelaskan, negara tujuan ekspor terbesar dari DIY adalah Amerika Serikat senilai 15,11 juta USD dengan andil 44 persen. Disusul Jepang senilai 2,74 juta USD dengan andil 7,98 persen, lalu Jerman senilai 2,33 juta USD dengan andil 6,79 persen. Kemudian disusul Australia, Belanda, Inggris, Korea Selatan, hingga Singapura. Masing-masing dengan nilai di bawah dua juta dolar AS dengan andil di bawah enam persen.

Sementara untuk kawasan ekspor dari DIY yang paling tinggi adalah Uni Eropa sebesar 6,78 juta USD dengan andil 19,74 persen. Kemudian kawasan Asia Tenggara senilai 1,25 USD dengan andil 3,64 persen.

Dari sisi sektor, ekspor hasil pertanian pada April 2024 turun 64,10 persen dibanding Maret 2024. Sementara itu, ekspor hasil industri pengolahan turun 20,26 persen. Dibanding April 2023, ekspor hasil pertanian turun 22,22 persen. “Sebaliknya, ekspor hasil industri pengolahan naik 9,40 persen,” ujar Herum.

Berbeda dengan ekspor pada April 2024 yang menurun, impor justru menguat. Nilai impor DIY pada April 2024 mencapai 13,22 USD. Naik 43,07 persen dibandingkan Maret 2024. Sementara itu, jika dibandingkan April 2023, nilai impor naik 87,25 persen.

Herum mengatakan, negara pemasok impor ke DIY yang terbesar adalah Tiongkok senilai 5,12 juta USD dengan andil 38,75 persen. Disusul Hongkong senilai 2,32 juta USD dengan andil 17,55 persen. Lalu diikuti Amerika Serikat senilai 2,26 juta USD dengan andil 17,10 persen. "Negara Korea Selatan dan yang lain nilainya di bawah 1 juta USD dan andil di bawah 8 persen," jelasnya.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY menyebut penurunan ekspor pada April 2024 sudah menjadi tren secara tahunan. Penurunan ekspor tidak hanya terjadi di DIY, namun juga di tingkat nasional.

Kepala Disperindag DIY Syam Arjayanti mengatakan, berdasarkan data BPS 2015-2024, tren nilai ekspor DIJ pada April memang mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. “Ekspor Indonesia pada April 2024 turun 12,97 persen dibandingkan Maret 2024 dan sedikit naik 1,7 persen dibandingkan Maret 2023,” jelasnya.

Ia menjelaskan, penyumbang penurunan ekspor DIY terjadi pada komoditas pakaian jadi bukan rajutan sebagai komoditas utama ekspor sebesar 4,73 juta USD. Tahun lalu, komoditas ini juga menyumbang penurunan ekspor.

Penurunan permintaan juga diperkirakan menjadi faktor menurunnya ekspor. Meskipun stok masih ada dari bulan sebelumnya. Syam menyebut, lesunya ekspor ini akan kembali pulih di bulan selanjutnya.

Ia berharap ekspor tekstil atau garmen di DIY masih eksis. Dengan catatan ekosistem ekspor harus terjaga dengan baik. Seperti kebijakan yang mendukung keberlanjutan kegiatan industri dan perdagangan. “Bisa kebijakan terkait pajak, perizinan berusaha, dan perizinan impor yang mendukung bahan baku,” ujar Syam. (tyo/din)

 

Editor : Satria Pradika
#ekspor #usd #Yogyakarta #bps #DIY #Disperindag #Amerika Serikat