Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Awal Musim Kemarau Mundur, BMKG Yogyakarta Beberkan Kapan Berakhirnya

Iwan Nurwanto • Rabu, 22 Mei 2024 | 16:20 WIB
Ilustrasi awan mendung, BMKG Yogyakarta prediksi hujan selama awal bulan Mei.
Ilustrasi awan mendung, BMKG Yogyakarta prediksi hujan selama awal bulan Mei.

SLEMAN - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyebut awal musim kemarau tahun ini mengalami kemunduran. Hal itu pun membuat musim panas akan terjadi lebih lama untuk tahun ini.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, secara umum wilayah DIY memang baru memasuki musim kemarau pada bulan Mei. Namun, ada wilayah yang mulai mengalami penurunan curah hujan pada awal serta akhir bulan.

Reni membeberkan, sejumlah wilayah yang memasuki musim kemarau pada awal bulan Mei (dasarian 1) di antaranya Kulonprogo bagian tengah dan selatan, Sleman bagian selatan, Kota Yogyakarta, Bantul, Gunungkidul bagian barat daya dan utara. Sementara untuk yang memasuki di akhir Mei (dasarian 3) meliputi Kulon Progo bagian utara, Sleman bagian utara, Gunungkidul bagian tengah dan selatan.

“Apabila dibandingkan dengan rata-ratanya awal musim kemarau 2024 di seluruh wilayah DIY diprediksi mundur,” ujar Reni dalam keterangannya, Rabu (22/5).

Atas berbagai kondisi tersebut, dia menghimbau, supaya pemerintah dan masyarakat luas untuk lebih siap dan antisipatif terhadap berbagai kemungkinan. Terlebih pada dampak puncak musim kemarau seperti bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan, serta berkurangnya ketersediaan air bersih.

Reni menyebut, bahwa puncak musim kemarau sendiri kemungkinan terjadi pada bulan Juli hingga Agustus. Selama periode tersebut juga diprediksi dapat terjadi suhu udara cukup tinggi kisaran maksimal 35 sampai 36 derajat celcius.

“Dengan kondisi iklim saat musim kemarau, bagi petani kami harap untuk mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen,” imbuhnya.

Sementara untuk akhir musim kemarau, disebutnya, diprediksi pada bulan September mendatang. Untuk yang paling awal kemungkinan di wilayah kabupaten Kulonprogo bagian utara.

Kemudian untuk yang mulai memasuki kemarau pada pertentangan bulan September meliputi Kulonprogo bagian tengah dan selatan, Sleman bagian barat dan timur, Bantul bagian tengah dan selatan, serta Gunungkidul bagian utara dan barat daya.

Baca Juga: Lebih Tajam, Pandai Besi di Wates Kulon Progo Kebanjiran Order Pisau Tempa Jelang Idul Adha

“Sementara untuk September dasarian tiga atau pada akhir bulan, meliputi Sleman bagian utara dan tengah, Kota Yogyakarta, Bantul bagian utara, Gunungkidul bagian tengah dan selatan,” beber Reni.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro menyatakan, hingga bulan akhir Mei kabupaten Sleman masih menetapkan kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi. Sebab, saat ini masih masuk masa pancaroba atau peralihan musim penghujan ke kemarau.

Dia memgukukap, kalau pembahasan terkait bencana kekeringan baru akan mulai dibahas bulan Juni mendatang. Tepatnya setelah masa perpanjangan status siaga darurat bencana hidrometeorologi berakhir.

“Apabila melihat pengalaman tahun lalu, Bambang menyebut, sebagian besar wilayah Bumi Sembada memang rawan mengalami bencana kekeringan,” terang Bambang. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kemarau #cuaca #Ekstrem #BMKG