RADAR JOGJA – Beradaptasi dengan perkembangan teknologi memang menjadi keharusan. Namun munculnya fenomena orang tua mengenalkan anak smartphone sejak usia dibawah lima tahun (balita) sangat tidak direkomendasikan, karena bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Ilmuan Psikologi Annisa Reginasari mengatakan merujuk pada standard WHO anak usia 0-2 tahun tidak disarankan mengkonsumsi materi peralatan dari media di internet. Anak usia 0-2 tahun sebenarnya tidak boleh mengkonsumsi konten media internet karena bisa mempengaruhi aspek perkembangan anak.
“Pengaruhnya itu lebih ke arah negatif kalau (menggunakan smartphone) sejak balita, sebagaimana temuan-temuan penelitian sebelumnya yang saya pahami walaupun untuk anak yang lebih tua, seperti anak sekolah SD dan remaja, mendapatkan manfaat akses pengetahuan di internet,” kata Annisa Reginasari pada Selasa (21/5/2024).
Kalaupun realita sulit dihindari, pihaknya mengingatkan tentang pedoman waktu menatap layar. Tidak boleh lebih dari satu jam per hari untuk anak usia 2–5 tahun, karena berpengaruh terhadap aktifitas fisik.“(Mempengaruhi) pola tidur, terhadap perkembangan, dan kesehatan,” ujarnya.
Kemudian anak usia 6-11 tahun, orang tua memang dilematis menyikapi penggunaan handphone pada anak. Pada saat pandemi Covid-19 misalnya, semua kelas berada dalam jaringan. Pihaknya menyarankan, selain memperhatikan durasi waktu juga kontennya.“Hendaknya dibersamai oleh orang tua,” jelasnya.
Di usia tersebut dia merekomendasikan agar para orang tua menahan diri untuk membelikan smartphone kepada anak. Dipersilakan anak mengoperasikan namun harus tetap dalam pantauan dan aturan-aturan.“Perlu membuat kesepakatan bersama antara anak dengan orang tua. Misalnya, ada pelanggaran durasi waktu, ada konsekuensi,” ungkapnya.
Waktu menatap layar pada kelompok usia sekolah menengah pertama (SMP) pun perlu diperhatikan.
Sosiolog Universitas Widya Mataram Jogjakarta Mukhijab mengatakan dalam berbagai skala masyarakat, orang tua cenderung mengenalkan gawai kepada anaknya walaupun usia balita. Terdapat asumsi dari para orangtua, bahwa mengenalkan gawai lebih dini membuat anak melek teknologi komunikasi.
Dengan anak memegang gawai tingkahnya terkendali karena anak fokus menonton video atau bermain berbasis internet.“Gawai sebagai ‘pengganti’ pengasuh, dari staf rumah tangga atau baby sister dialihkan ke gawai,” kata Mukhijab.
Dewasa ini banyak orangtua yang lupa membiarkan anaknya yang balita maupun anak-anak usia 5-12 tahun ‘bebas’ menggunakan gawai. Padahal berdampak negatif pada pengenalan bahasa dan sosialisasi dengan lingkungan.
Anak asik memegang handphone fokus pada instrumen, diam dan menikmati, miskin atau irit bicara.“Maka terjadi stagnasi dalam pengenalan bahasa dan keterbatasan dalam komunikasi dengan keluarga maupun lingkungan sosial,” tegasnya.
Ketika anak kurang mengenal lingkungan internal keluarga dan tetangga atau sekitar rumah, efeknya gangguan sosialisasi, kemandirian dan bicara-bahasa. Memang ada sedikit positif mengenalkan gawai pada anak. Dalam skala anak menggunakan gawai secara minimal atau tidak overuse, bisa memberikan rangsangan audio visual pada penglihatan dan pendengaran anak.
Tetapi orangtua umumnya sulit mengendalikan atau membatasi pemakaian gawai pada anaknya, dampak negatifnya dalam jangka menengah dan panjang lebih besar.“Orang tua yang sayang pada anaknya tidak membebaskan anaknya pada usia dini menggunakan hp tanpa batas waktu dan bimbingan atau pengarahan,” ucapnya. (gun/din)
Editor : Satria Pradika