Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masuk Musim Kemarau, Hujan Menghilang dari Wilayah DIY

Elang Kharisma Dewangga • Jumat, 17 Mei 2024 | 03:15 WIB
Pengunjung mengamati matahari terbenam di tempat parkir Abu Bakar Ali, Danurejan, Jogja, Kamis (16/5).
Pengunjung mengamati matahari terbenam di tempat parkir Abu Bakar Ali, Danurejan, Jogja, Kamis (16/5).

 

RADAR JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyebut hujan sudah mulai menghilang dari wilayah DIY. Bahkan di pertengahan bulan Mei ini semua kabupaten/kota sudah tidak lagi diguyur hujan selama beberapa hari terakhir.


Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, dari hasil pantauan selama tiga hari terakhir sebagian besar wilayah DIY tidak diguyur hujan. Di mana sejak hari Senin (13/5), menurutnya, tidak ada satu pun kabupaten/kota yang hujan.


Kemudian hari Selasa (14/5) hujan dengan intensitas ringan hanya mengguyur sisi barat wilayah Yogyakarta. Tepatnya di Kapanewon Kokap, Kulonprogo. Sementara untuk Rabu (15/5) hujan kembali menghilang, tidak ada kabupaten atau kota yang diguyur hujan.


Kondisi tanpa hujan kemungkinan juga terjadi pada hari Kamis (16/5). "Mulai menghilangnya hujan dari wilayah DIY karena kini sudah memasuki musim kemarau," ujar Reni saat dikonfirmasi Kamis (16/5).


Reni menerangkan, wilayah DIY mulai memasuki musim kemarau sejak awal Mei lalu. Kondisi cuaca tanpa hujan itu pun diprediksi dapat terjadi hingga September mendatang.


Dia melanjutkan, kalau selama musim kemarau ini suhu di Jogjakarta juga akan cukup panas. Bahkan rata-rata suhu tertingginya dapat mencapai 34 sampai 35 derajat celcius.


Oleh karena itu, Reni pun menghimbau agar masyarakat dan pemerintah mulai mengantisipasi dampak musim kemarau tahun ini. Di antaranya potensi bencana kekeringan lahan pertanian, kebakaran hutan serta lahan, hingga kekurangan air bersih. "Kewaspadaan musim kemarau dimulai bulan Mei sampai September," katanya.


Terkait kesiapan Pemkab Sleman menghadapi kemarau, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro menyampaikan, hingga akhir Mei pihaknya masih menetapkan kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi.


Sebab, saat ini masuk masa pancaroba atau peralihan musim penghujan ke kemarau. Sehingga potensi bencana seperti hujan disertai angin kencang, pohon tumbang, hingga tanah longsor dapat masih terjadi.


Bambang menyatakan, pembahasan terkait bencana kekeringan baru akan mulai dibahas Juni mendatang. Sementara jika melihat pengalaman tahun lalu, sebagian besar wilayah Bumi Sembada rawan mengalami bencana kekeringan. "Tahun lalu 13 kapanewon mengajukan droping air bersih," ungkapnya. (inu/laz)

Editor : Satria Pradika
#Yogyakarta #kekurangan air bersih #Hujan #bencana hidrometeorologi #Bumi Sembada #musim kemarau #BPBD Sleman #BMKG