RADAR JOGJA - Kepadatan di Kota Jogja tidak dapat dipungkiri lagi. Kawasan permukiman masyarakatnya sudah semakin menyempit, karena banyak bangunan yang berdiri. Kondisi ini mengakibatkan semakin minimnya lahan parkir untuk kendaraan roda empat. Garasi bersama pun menjadi solusi.
Sejumlah lahan milik pribadi ataupun kelompok terkadang digunakan sebagai tempat penyewaan parkir mobil. Seperti di Kelurahan Wirogunan, Kemantren Mergangsan, Kota Jogja. Warga setempat, Yohanes Dwi Joko Waskito menceritakan, ada satu lahan milik pribadi yang dijadikan lahan parkir mobil bersama.
Agak sedikit berbeda karena lokasi itu tidak disewakan secara frontal. Namun ada sejumlah mobil milik warga yang diparkir di situ, tetapi tidak ada kesepakatan sewa-menyewa. "Tetapi atas kesadaran sendiri yang parkir mobil bayar setiap bulannya," katanya (21/4).
Karena tidak ada kesepakatan sewa-menyewa, sehingga uang yang dibayarkan sukarela. Meski begitu, sang pemilik lahan juga tidak mempersoalkan hal itu. Dia menuturkan, lokasi tepatnya berada di Kampung Surokarsan RT 18/05.
Menurutnya, kondisi itu secara umum tidak menjadi persoalan warga kampung. Itu karena tidak mengganggu jalan atau mobilitas masyarakat setempat. Lahan itu hanya seperti lapangan terbuka saja dan tidak dikelola secara struktural.
Pria yang juga ketua RT 18 ini mengakui, ada anggapan kalau punya mobil wajib punya lahan parkirnya. Namun kebetulan di wilayahnya tidak ada yang sampai dalam kondisi punya mobil tetapi tidak punya lahan parkir. Tetapi di tetangga RW-nya anggapan itu sempat jadi perbincangan warga.
"Bahkan sampai sempat ada yang dibuatkan banner," ucapnya. Banner itu sekarang masih, tetapi karena sudah ada lahan bersamanya, banner berisi berbagai pesan yang ditujukan agar tidak parkir sembarangan.
Dia menyebut, di dekat Lapas Wirogunan sebelah timurnya juga masih ada banner itu. Bahkan masih ada mobil yang parkir di pinggir jalan. "Kalau tempat saya sih aman-aman saja, tanah kosong bisa dimanfaatkan," tuturnya.
Sementara itu, pemilik penyewaan garasi mobil Tutus Soko Kamandanu menambahkan, untuk yang dimilikinya itu disewa hanya sebagai penitipan mobil saat pemiliknya pergi ke luar kota. Bukan untuk penyewaan parkiran yang sehari-hari yang pemiliknya mondar-mandir ke luar masuk mobil.
Dia menarik Rp 400 ribu sebulan untuk yang memakai garasi sewaannya. Selain itu, jarang ada warga sekitar yang menyewa tempatnya. Rata-rata orang luar yang pergi ke luar kota dalam jangka waktu lama. "Daripada mobilnya ditinggal di rumah, jadi dititipin ada orangnya dan terjaga," ujarnya. (rul/laz)