RADAR JOGJA - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS disebut dipengaruhi konflik geopolitik yang terjadi antara Iran dan Israel. Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menyebut bahwa situasi yang terjadi kini lebih panas dan berbahaya dibandingkan konflik Rusia dan Ukraina.
Fahmy menyebut, konflik Iran dan Israel berpotensi menaikan harga minyak dunia yang akan memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Alasannya, lokasi konflik yang terjadi di sekitar Selat Hormuz akan mengganggu jalur supply chain minyak dunia sehingga menghambat pasokan minyak dan menaikkan biaya distribusi, dan akan berpengaruh pada kenaikan harga minyak dunia.
"Sebelum pecah konflik harga minyak dunia sudah kisaran USD 89 per barrel, potensi kenaikan harga minyak dunia akan berlanjut saat ketegangan Iran Israel meluas," katanya, Rabu (17/4).
Disebutnya, jika konflik Iran Israel terus meluas, tidak bisa dihindari harga minyak dunia akan melambung, bahkan bisa mencapai di atas USD 100 per barrel.
Fahmy menilai pemerintah saat ini sedang dihadapkan pada dilema dalam penetapan harga BBM subsidi di dalam negeri. Kalau harga BBM subsidi tidak dinaikan, maka beban APBN akan membengkak.
Dalam ketidakpastian harga minyak dunia akibat konflik tersebut, ia mengaku penting bagi pemerintah untuk tidak memberikan harapan palsu kepada rakyat dengan menjamin bahwa harga BBM Subsidi tidak akan dinaikan.
Menurutnya, pemerintah sebaiknya mengambil keputusan realistis berdasarkan indikator terukur, salah satunya harga minyak dunia. Kalau harga minyak dunia masih di bawah USD 100 per barrel, harga BBM Subsidi tidak perlu dinaikan. Namun, kalau harga minyak dunia mencapai di atas USD 100 per barrel, harga BBM Subsidi sebaiknya dinaikan, sembari memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada rakyat miskin yang terdampak.
Sementara, di samping itu, kenaikan harga minyak dunia juga akan semakin menguras devisa untuk membiayai impor BBM. Ujung-ujungnya makin memperlemah kurs rupiah terhadap dollar AS, yang sudah menembus Rp 16 ribu per dollar AS.
Dia memperkirakan jika konfliknya berkepanjangan dan memburuk, bisa saja dolar AS menyentuh Rp 17 ribu. “Ini situasi yang sangat berbahaya. Kita itu negara importir, kalau banyak rupiah untuk membiayai impor itu tadi, maka akan mempengaruhi kurs rupiah jadi semakin melemah," sebutnya.
Fahmy membeberkan di situasi konflik yang terjadi saat ini, Indonesia sejatinya juga tidak bisa berbuat banyak, karena harga minyak itu sendiri uncontrollable. "Kita hanya bisa melakukan mitigasi agar perang ini tidak makin meluas, melalui diplomasi kedutaan, dan itu sudah dilakukan," bebernya. (iza/pra)
Editor : Satria Pradika