JOGJA - Memasuki hari ke-9 Ramadhan 2024, sopir andong dan becak di kawasan Malioboro Jogja keluhkan sepi pelanggan bahkan ada yang sama sekali tidak dapat orderan. Sebagian dari mereka memutuskan untuk berhenti 'mangkal' dan beralih menjadi pekerja serabutan.
"Penyebabnya jelas karena tidak ada wisatawan datang, kalau tidak ada kan berarti kami sulit untuk mencari penumpang," tutur Ketua Paguyuban Tukang Becak Prasojo, Purwanto, Rabu (20/3/2024).
Ia menilai para pembecak saat ini tidak berharap mendapatkan penumpang dari warga lokal karena warga lokal sangat jarang yang naik becak. Pada saat mulai awal puasa, pihaknya telah merasakan tidak adanya pelanggan.
"Karena puasanya mulai senin, kemarin itu terakhir ada wisatawan hari Sabtu dan Minggu, itu saja jumlahnya sudah berkurang," tuturnya.
"Itu saja cuma sekitaran DIY dan Jawa Tengah, tidak ada yang jauh (wisatawannya)," imbuhnya.
Menghadapi hal tersebut, para pembecak harus memutar otak supaya tetap bisa mempunyai penghasilan di saat bulan Ramadhan. Maka dari itu, sebagian dari mereka memutuskan untuk bekerja serabutan di rumahnya.
"Kalau yang punya keahlian lain seperti menukang, serabutan mereka bisa survive itupun tidak pasti. Tapi mayoritas ya banyak yang menganggur dan tidak berpenghasilan," jelasnya.
Para pembecak memang telah memperkirakan bahwa Ramadhan akan sepi orderan. Hal tersebut karena selama bertahun tahun siklus wisatawan memang seperti itu.
"Makanya mayoritas (pembecak) itu dalam satu bulan ini memang off dan akan aktif kembali saat mau lebaran sekitar H-5," tandasnya.
"Selama Ramadhan ini bisa dikatakan kami nol penumpang, kami dari pagi sampai sore mangkal belum tentu narik," imbuhnya.
Sementara itu Ketua Paguyuban Kusir Andong Wisata DIY, Purwanto menambahkan para sopir andong yang tergabung dalam Paguyuban tersebut banyak yang mengaku mengalami penurunan pendapatan. Walaupun sepi, banyak sopir andong yang masih mangkal di Malioboro.
"Sebab kuda itu butuh bergerak, karena kalau gak bergerak kembali ke liar. Jadi mesti sepi, tetep berangkat ke Malioboro," ujarnya.
Setiap tahun, saat bulan Ramadhan selalu mengalami penurunan secara drastis. Bahkan para sopir andong harus mengeluarkan biaya operasional untuk memberi makan kudanya.
"Untuk makan itu biasaya harus beli daun kacang, dedak, pengobatan jamu dan lainya,"
"Pendapatan bukan lagi nol, malah sampai minus kalau buat saya," tandasnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin