Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sardiman Berhenti dari PNS dan Menjalani sebagai Seniman, Sulap Botol Plastik Menjadi Wayang Bernilai Jual

Khairul Ma'arif • Rabu, 6 Maret 2024 | 14:30 WIB
MANFAATKAN LIMBAH: Sardiman alias Sardie Beib saat mengerjakan pembuatan wayang plastik. Ia juga membuat topeng kertas.Khairul Ma
MANFAATKAN LIMBAH: Sardiman alias Sardie Beib saat mengerjakan pembuatan wayang plastik. Ia juga membuat topeng kertas.Khairul Ma


RADAR JOGJA - Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) merupakan dambaan banyak orang. Tapi, tidak demikian bagi Sardiman. Ketika sudah 24 tahun sebagai PNS di LIPI, dia justru memutuskan berhenti. Ia memilih untuk menjalani sebagai seorang seniman yang penghasilannya tidak pasti.

KHAIRUL MA'ARIF, Sleman

Rumah Sardiman ada di Jalan Kaliurang Km 16 Ngemplak. Ketika masuk di teras, langsung disambut sejumlah hasil karya seni. Lukisan dan hasil kerajinannya dipajang di sudut-sudut ruangan. Membuat tamu yang datang seakan sedang mendatangi pameran karya seni.


Nama Sardiman mulai dikenal sebagai seniman yang membuat wayang berbahan dasar limbah plastik. Biasanya dia menggunakan bekas botol plastik untuk membuat wayang.

Sosoknya saat menjadi PNS di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) belum seterkenal sekarang. Banyak orang sekarang lebih familiar dengannya ketika menjadi seorang seniman.


Pria yang biasa disapa Sardi Beib itu awalnya PNS di LIPI Bandung. "Saya jadi PNS sejak 1982, terus mutusin berhenti pada 2006 untuk jadi seniman," ungkapnya saat ditemui Radar Jogja, Minggu (3/3).


Tahun itu dia keluar dari PNS dan pindah dari Bandung ke Jogja. Pria 64 tahun ini mengaku merasa terkekang dengan jam kerja sebagai PNS sampai puluhan tahun. Menurutnya, karena memiliki karsa dan daya cipta ketika PNS membuat semuanya mengendap selama bertahun-tahun.


Bapak tiga anak ini mengungkapkan, sebenarnya keahliannya di dunia seni sudah terasah sejak SD. Nilai-nilainya selalu bagus dalam bidang prakarya ataupun melukis. Ketika lulus SMP, dia merasa gamang. Sebenarnya ingin melanjutkan ke SMSR.


Tetapi karena lahir dari latar belakang yang serba pas-pasan, keinginannya itu diurungkan. Itu karena orang tuanya yang miskin sehingga khawatir terhadap jaminan masa depan ketika masuk SMSR. Akhirnya ia melanjutkan ke STM Jurusan Geologi Pertambangan dan ketika lulus kebetulan dibuka PNS di LIPI.


Meski harus meninggalkan kepastian penghasilan sebagai PNS, tidak ada rasa penyesalan. Keputusannya sempat diprotes oleh keluarganya. Bahkan anaknya ada yang sampai down karena Sardiman berhenti dari PNS. "Sepadan dengan kebahagiaan yang saya peroleh. Kemerdekaan itu sangat mahal," tegasnya.


Dia menceritakan, ketika 2006 tidak langsung serta merta menjadi seniman. Terlebih dulu memperbanyak pergaulan dengan para kalangan senimann di Jogja. Itu juga dijadikan sebagai pencariannya untuk fokus dalam kesenian seperti apa. Sardi Beib menyadari, perkembangan kesenian sudah jauh melangkah.


Oleh karena itu, ketika dia memulai karir kesenian dengan sarana yang sama seperti seniman lainnya, disadari akan kalah. Nama-nama besar seperti Nasirun dalam seni lukis tidak mungkin digesernya, sehingga mencoba membuat karya seni yang berbeda. Dipilihlah bahan limbah sebagai medianya dalam berkarya.


Sardi Beib menuturkan, awalnya dia membuat karya seni topeng dari bahan limbah kertas. Limbah kertas berupa bubuk itu dicetak dalam mangkok bakso lantas dibentuk menjadi topeng. Dirasanya bosen membuat itu hingga ia beralih membuat wayang golek dari bahan plastik.


Kala pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu, ide membuat wayang dari plastik mulai muncul. Itu lantaran dihadapkan pada posisi terbatasnya mobilitas yang dilakukan Sardi Beib.

"Dalam keadaan terbelenggu saya melihat botol-botol plastik, lalu muncul ide bikin wayang," tuturnya. Menurutnya, saat itu teknologinya sangat naif sekali dengan disetrika. Penciptaan karya itu sangat otodidak, dilakukannya secara sendiri.


Harga wayang plastik variatif, ada yang Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Proses pembuatannya bisa dipaksakan dalam satu hari selesai. Selain wayang golek, ia juga membuat gunungan wayang dari bahan plastik bekas botol mineral.


Menurutnya, untuk satu gunungan wayang ukuran 60 centimeter menghabiskan enam botol bekas mineral ukuran 1,5 liter. Sedangkan untuk wayang Gatotkaca, Semar, dan Gareng menghabiskan tiga botol.


Sampai sekarang proses penjualan wayang plastik ini berdasarkan pesanan. Sardi Beib belum menyuplai atau memasarkannya secara online ataupun offline. Pembelinya mengetahui dari medsos ataupun pemerintah, sehingga memesannya.


Kini dia fokus membuat wayang plastik karena sudah laku. Cuan pun mengalir. Meski begitu, lakunya karya seni yang dibuatnya itu baru dua tahun belakangan ini. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Seniman #Sleman #Jalan Kaliurang #wayang