JOGJA - Kelangkaan beras di ritel-ritel modern memunculkan banyak tanya dan kekhawatiran. Selain dampak El Nino, hilangnya bahan makanan pokok disebut-sebut ada benang merah dengan penyaluran bansos pada masa Pemilu 2024.
Di Indonesia kenapa harga beras tinggi? Seperti diketahui beras premium harga eceran tertinggi (HET) Rp 13.900 per kilogram (kg). Sekarang di pasaran wilayah Jogja harga pasaran sekitar Rp 16 ribu sampai dengan Rp 20 ribu per kg.
Salah satu ekonom Universitas Mercu Buana (UMBY) Widarta, SE, MM, CDMP Widarto mengatakan, harga beras tinggi akan berdampak terhadap inflasi dan efeknya ke harga kebutuhan pangan sampai 3 sampai 4 persen.
Salah satu penyebab beras hilang dan mahal adalah El Nino. Fenomena itu berdampak kepada kemunduran masa tanam dan panen dan mengekor ke stok pangan Nasional. Satu yang perlu dikendalikan pemerintah, bahwa kebijakan impor beras ini harus benar-benar memperhatikan efek panen petani.
"Apakah pada saat panen nanti petani happy, tapi stok mereka khan tidak ada beras. Apakah masih punya stok pertanyaannya khan itu," ujarnya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan harga beras tinggi. Pemerintah harus siap dengan manajemen krisis, karena tampaknya pemerintah tidak siap. Karena sudah lama pemerintah berargumen mengenai kondisi cadangan pangan aman, beras aman, impor beras 3 juta ton aman sampai Idul Fitri ke belakang.
"Tapi pada kenyataannya, pemerintah tidak siap dengan krisis ini. Tiba-tiba beras menjadi mahal naik terus. Kalau Desember tahun lalu posisi (harga) beras stabil tapi stabil tinggi, sekarang sudah tidak stabil lagi, sekarang naik lagi," bebernya.
Baca Juga: Waduh! Anggota Polresta Magelang Mendadak Lakukan Tes Urine, Ada Apa?
Artinya, manajemen krisis pemerintah harus siap. Kalau perlu segera intervensi beras ke pasar. Beras BULOG harus segera dikeluarkan agar jangan sampai bertumpuk-tumpuk. Seperti diketahui, di 2018 atau menjelang pemilu, pernah import besar-besaran ternyata ditumpuk dan akhirnya menjadi 800 ribu ton tidak ada manfaatnya.
"Membusuk dan akhirnya dibuang dan tidak jadi disalurkan ke masyarakat," ungkapnya.
Kemudian keterkaitan dengan nuansa politik. Beberapa waktu lalu bergulir program penyaluran beras bansos 10 kg untuk 20 juta keluarga penerima manfaat. Menurutnya program tersebut bagus, tapi jangan sampai mengganggu pasar, terutama di ritel pasar modern.
"Beberapa teman melaporkan beras menghilang di ritel-ritel modern, karena sudah dikemas bagus tiba-tiba hilang dan itu mengakibatkan kecemasan pada masyarakat. Termasuk kalangan menengah ke atas. Kalau (beras) sampai hilang mereka pun juga akan menjadi panik bisa menjadi panic buying," bebernya.
Mungkin bagi pasar tradisional, fenomena tersebut tidak begitu banyak pengaruhnya. Biarpun harga beras mahal tapi stok masih ada, karena ada transaksi jual beli beras dari masyarakat, atau melalui penggilingan.
Pakar ekonomi ini berharap, hilangnya beras di ritel modern perlu dicermati. Jangan sampai kecurigaan sebagian masyarakat bahwa beras yang seharusnya disalurkan ke pasar modern justru dialihkan untuk kepentingan bansos.
"Karena kecurigaan itu cukup beralasan. Tiba-tiba beras menghilang sejak menjelang pemilu sampai sekarang dan belum semua terantisipasi," terangnya.
Karenanya, jangan sampai kebijakan penyaluran bansos mengganggu ritel modern karena ada kecurigaan dialihkan untuk bansos. Pemerintah sebelumnya juga menyampaikan bahwa bansos merupakan program lama tapi kenapa terlaksana sekarang bersamaan dengan pemilu.
"Tetapi ternyata ada efek sampingnya, tiba-tiba pasar-pasar modern beras hilang. Saya kira perlu kejujuran dari pemerintah karena beras adalah bahan makanan pokok masyarakat Indonesia," terangnya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin