Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bukan Sekadar Daun Muda, Ternyata Begini Makna Janur Dalam Prosesi Sakral Adat Jawa

Gunawan RaJa • Minggu, 21 Januari 2024 | 07:11 WIB
KAYA MAKNA: Pelestari budaya asal Jogjakarta Dani Mukti SH.
KAYA MAKNA: Pelestari budaya asal Jogjakarta Dani Mukti SH.
JOGJA - Ungkapan "sebelum janur melengkung', tidak asing ditelinga orang dewasa. Janur melengkung identik dengan mantenan atau pernikahan.
 
Ternyata, janur bukan sekadar daun muda. Tapi, maknanya sangat dalam.

Pelestari budaya asal Jogjakarta Dani Mukti SH  mengatakan, janur kuning atau daun kelapa muda adalah simbol-simbol. Begitu juga dengan blarak, daun kelapa kering. 
 
Baca Juga: Kisah Sukses Ketua PHRI Bantul Yohanes Hendra Dwi Utomo: Lulusan Teknik Informatika yang Melesat Menjadi Hotel Manager

"Dalam masyarakat Jawa keduanya (janur kuning dan blarak) hampir selalu dihadirkan dalam kegiatan upacara-upacara adat," kata Dani Mukti pada Jumat (19/1/2024).

Owner Wedding Organizer Pengantin Production Jogjakarta ini menjelaskan, janur kuning menyimpan kekuatan doa yang sangat mendalam.

"Janur kuning. Janur itu asal kata dari janah yang berarti surga. Sementara nur itu adalah cahaya. Jadi, janur itu cahaya surga, petunjuk dari Allah SWT," ujarnya.
 
Baca Juga: Pelatih Kamerun Bakal Pertahankan Andre Onana Usai Kekalahan Telak Atas Senegal

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) itu melanjutkan, "kuning" asal kata dari kun fayakun. Kun ketekunan juga bisa ning itu wening atau keheningan.

"Keingingan itu adalah laku prihatin yang banyak dilakukan oleh masyarakat untuk mencapai sesuatu yang diharapkan. Dengan ketekunan itu kemudian atas izin Tuhan, kun fayakun (yang terjadi terjadilah)," bebernya.

Pemain FTV dan sinetron itu kembali manyampaikan, cahaya surga yang dimaksud adalah segala sesuatu yang diupayakan.

Janur dimaknai jannah atau surga dan nur, ini petunjuk Allah. "Nah" menjadi rangkaian kata janur kuning itulah yang memaknai. Semua doa perlambang yang diterapkan, dihadirkan dalam upacara upacara adat.

Baik itu digunakan sebagai ubo rampe langsung di perangkat sajen, ataupun sebagai simbol di kembar mayang. Mungkin umbul umbul dan sebagainya.
 
Baca Juga: Resmi! Muhammadiyah Tetapkan Puasa Pertama pada 11 Maret 2024

"Dipercaya juga dalam masyarakat Jawa, masyarakat dulu saat orang membuat segala aneka dekorasi janur diiringi dengan doa," ungkapnya.

Misalnya, dalam setiap dekoratif bentuk janur itu sendiri, ada bentuk menyerupai walang- walangan, pecut, ada manuk-manukan (burung) dan yang lain.

"Itu setiap bentuk juga memberikan makna. Jadi benar benar para sesepuh dulu waktu membuat itu juga sudah dengan doa" ucapnya.

Itu di situ juga ada lengkungan janur kuning.

Di dalam pernikahan itu sendiri juga ada uborampe upacara adat yang lain berupa kembar mayang juga terbuat dari janur.

Ada juga bentuk kembar mayang dengan bentuk sama tetapi dengan penyebutan yang berbeda.

Ada namanya gagar mayang. Bentuknya sama tapi digunakan untuk tetenger atau penanda saat seorang gadis atau perjaka, belum menikah meninggal dunia.
 
Baca Juga: Wow! 19.328 Orang Ajukan Pindah Pemilih di Sleman, KPU: Banyak Yang Mengurus di Hari Terakhir

"Kalau kembar mayang digunakan pada saat pernikahan gadis dan perjaka. Lalu kembang Mayang, itu pernikahan antara gadis dan duda," terangnya.

Di kembar mayang itulah terdapat banyak bentuk lipatan janur yang memaknai berbagai doa.

"Tadi saya sebutkan ada bentuk manuk-manukan dimaknai hidup berdampingan. Walang-walangan perlambang semoga dijauhkan dari segala halangan, ada pecut lebih kepada simbol semangat," ungkapnya.

Lalu janur berbentuk payung, itu lebih kepada bentuk pengayoman sehingga surganya rumah tangga adalah keluarga.
 
Baca Juga: Uji Coba KTP Digital Dilakukan Pemerintah pada Juni 2024. Begini Cara Membuat IKD !

"Tadi saya sampaikan bahwa para pendahulu ketika membuat hiasan-hiasan janur, itu sudah dengan ritual doa," keterangnya.

Bahkan dalam simpul-simpul janur itu sendiri ada berbagai macam. Ada simpul janur bentuk tali wangsul. Artinya untuk menyadarkan kita bahwa hidup akan kembali kepada sang pencipta.

"Kemudian simpul janur tapi pati yakni berakhir pada kematian," ungkapnya.
 
Baca Juga: Jelang Lawan Persiraja, Duh...Presiden Klub PSIM Jogja Tumbang, Selfie di Rumah Sakit Sambil Tertawa 'Every Single Day I Have to Work’

Selanjutnya ada tali roso dan roso tali. Bentuk simpul janur lainnya tali rantai, menjadi simbol antara suami istri harus saling melengkapi.

Bentuk keris dimaknai sifat kandel atau hal yang bisa menahan mara bahaya.

"Nah, semua uba rampe ini bagi pengantin adalah perlambang doa dan harapan. Kalau pengantin tereduksi dengan simbol-simbol diantaranya janur ini, akan paham dan bisa memaknai sehingga kehadiran janur tidak hanya terlihat di mata namun masuk ke relung hati," tegasnya. (gun)




Editor : Amin Surachmad
#Daun Muda #cahaya surga #Janur