RADAR JOGJA - Putra bungsu Adipati Pura Pakualaman KGPAA Paku Alam (PA) X, BPH Kusumo Kuntonugroho, mulai menjalani prosesi nyengker atau pingitan sebelum acara pernikahannya dengan Laily Annisa Kusumastuti pada 10-11 Januari 2024. Prosesi adat nyengker menandai proses memasuki mahligai pernikahan di lingkungan Kadipaten atau lingkungan Kerajaan. Utamanya calon penganten (caten) wanita beserta keluarga yang dari masyarakat biasa memasuki lingkungan Pura Pakualaman.
Ketua Bidang II Panitia Dhaup Ageng Pakualaman 2024 Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radyo Wisroyo mengatakan, nyengker sudah mulai melibatkan keluarga dari caten putri. Nyengker dilakukan sejak Senin pagi (8/1), artinya caten putri sudah tiba di Kagungan Dalem (KD) Kepatihan dan diterima utusan dari PA X. Dilanjutkan melaksanakan gladi sampai acara akad nikah Rabu pagi (10/1).
"Ini yang memang berbeda dengan acara pernikahan-pernikahan di masyarakat. Biasanya memang kalau acara nyantri adalah pengantin kakung. Namun di sini karena yang kagungan kerso adalah PA X dan kebetulan ada caten kakung, sehingga yang wajib masuk ke puri adalah caten wanita. Karena caten wanita bukan dari kalangan keraton," katanya kepada wartawan di Media Center Dhaup Agung Pakualaman 2024, kemarin (8/1).
KRT Radyo Wisroyo menjelaskan, caten putri termasuk orang tua caten putri ditempatkan di KD Kepatihan Gandhok Wetan. Sementara orang tua caten putri akan tinggal hingga 12 Januari pasca resepsi atau pahargyan hari kedua. Dengan begitu, segala aktivitas prosesi Dhaup Ageng akan dilakukan di lingkungan Pura Pakualaman, bukan di rumah masing-masing.
"Esensi dari nyengker yang utama adalah mempersiapkan jiwanya sebelum nanti masuk acara lainnya. Ada siraman, midodareni, panggih, sungkem, dan segala macam. Akan digladi semua oleh abdi dalem yang bertugas, termasuk (gladi untuk) orang tua caten putri," ujarnya.
Menurutnya, untuk prosesi nyengker kali ini sudah ada penyederhanaan. Jika zaman dahulu nyengker atau nyantri bisa berlangsung selama satu bulan, saat ini seiring perkembangan zaman nyengker disederhanakan dengan waktu lebih pendek. Maka nyengker kali ini hanya digelar selama dua hari sebelum acara akad nikah
"Tapi kita mengambil esensinya, adat ini yang masih kita pegang di adat Pakualaman supaya bisa lestari. Memang kita harapkan tidak menerima tamu yang lain secara bebas. Cuma diberi waktu pada saat midodareni, meski tidak bisa menjumpai teman secara bebas," jelasnya.
Demikian pula tak ada ritual-ritual khusus seperti harus berpuasa untuk membersihkan jiwa, tidak boleh bertemu dengan caten putra, dan lain-lain. Sebab sudah berkembangnya zaman teknologi dengan munculnya WhatsApp dan sosial media lain, tak dipungkiri hal itu bisa dilakukan.
"Memang kalau zaman dahulu yang diikuti para pendahulu tidak boleh bertemu dengan calon penganten kakung. Di era sekarang tidak ketemu langsung kan bisa WA dan video call. Namun esensi dari nyengker itu sendiri tetap kita pertahankan," tandasnya.
Nyengker diartikan bukan hanya secara fisik bagaimana menyembah dan sungkem, melainkan untuk mempersiapkan kejiwaannya atau memantapkan hatinya. Sebab, ketika sudah menjadi istri dari seorang pangeran putra dari Adipati Pura Pakualaman, praktis akan mengikuti banyak acara adat.
"Sebetulnya pada zaman dahulu ada piwulang-piwulang bagaimana layaknya seorang putri keraton, karena nanti setelah menjadi istri dari putra raja atau putra adipati beliau pasti akan mendapat gelar bendara raden ayu. Di mana dari masyarakat biasa masuk masyarakat di lingkungan Pura Pakulaman atau keraton," terangnya.
Namun piwulang di Dhaup Ageng kali ini sudah disertakan dalam undangan yang disebar kepada tamu undangan yang akan hadir. Piwulang itu juga diambil dari naskah-naskah kuno di Pura Pakualaman. Serat piwulang adalah pegangan hidup seorang manusia untuk masuk ke langkah kehidupan yang baru.
Kegiatan nyengker di lingkungan Pura Pakualaman dengan Keraton Jogjakarta Hadiningrat berbeda. Nyengker lingkungan Pura Pakualaman adalah caten putri yang diterima, sementara di lingkungan Keraton adalah caten kakung yang diterima. Pun dari aspek tempat juga berbeda, karena di Pura Pakualaman tidak memiliki Bangsal Kasatriyan, maka menggunakan KD Gedhong Ijem.
"Inilah kegiatan nyengker yang tidak dijumpai di acara pernikahan masyarakat pada umumnya. Calon pengantin kakung juga diberikan gladi, tapi tidak sebanyak putri," tambahnya.
Adapun caten pria yang tengah menyelesaikan studinya di Osaka University Jepang, sudah tiba di Jogja, Minggu malam (7/1). Caten putra juga mengikuti prosesi nyengker meski tempatnya relatif tidak jauh. Namun secara adat, caten kakung sudah dipisahkan dari tempat tinggalnya.
"Pengantin kakung nanti siang akan mohon izin kepada Kanjeng Gusti (KGPAA PA X) dan Gusti Putri (GKBRAA Paku Alam) untuk mulai masuk ke area taman penganten," ungkapnya.
Pantauan Radar Jogja kemarin sore (8/1), BPH Kusumo Kuntonugroho juga mengikuti gladi resik akad nikah di Masjid Paku Alam. Caten putra diarak dari KD Gedhong Ijem diiringi puluhan prajurit menuju lokasi Akad Nikah. Di lokasi terlihat didampingi sang kakak, BPH Kusumo Bimantoro, beserta istri. (wia/laz)
Editor : Satria Pradika