RADAR JOGJA - Pesatnya perkembangan industri kopi di Yogyakarta tidak hanya menghadirkan aroma kopi yang harum tetapi juga memberikan dampak yang signifikan terhadap permasalahan lingkungan.
Meningkatnya jumlah kedai kopi di kota ini juga membuat permasalahan sampah plastik semakin sulit diatasi.
Kedai kopi di Yogyakarta bermunculan bak jamur saat musim hujan datang. itu bisa di sudut mana pun.
Pada titik tertentu,atau bahkan bersebelahan, hingga posisi yang behadapan.
Jumlah ini meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2014 terdapat 350 kedai kopi, pada tahun 2015 terdapat 600 kedai kopi, pada tahun 2018 terdapat 1.100 kedai kopi, dan pada hitungan terakhir tahun 2019 terdapat sekitar 3.500 kedai kopi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Yogyakarta telah menjadi surganya para pecinta kopi, dengan banyaknya kafe yang menawarkan pengalaman unik dan cita rasa kopi yang beragam.
Namun pertumbuhan ini juga menyebabkan peningkatan penggunaan kemasan plastik sebagai wadah minuman.
Sayangnya, bertambahnya jumlah kedai kopi di Yogyakarta tidak selalu membawa kabar baik.
Mengikuti pertumbuhan kedai kopi adalah penggunaan sampah plastik sekali pakai di Yogyakarta. mulai dari gelas, sambungan gelas, sedotan, tas bahkan alat makan.
Secangkir kopi kosong menghasilkan 8,5 gram sampah.
Data dari kedai kopi Warabala di Yogyakarta rata-rata menjual 165 cangkir per hari atau sekitar 6.000 cangkir per tahun.
Jumlah sampah yang menumpuk sekitar 510 kg atau setara dengan berat 5 ekor bayi gajah.
Seperti yang diketahui semua orang, sampah plastik tidak dapat terurai selama beberapa dekade.
Ketika sampah plastik tidak dapat terurai di darat, maka sampah tersebut mengalir ke sungai atau laut.
Terkait sampah plastik, yang dirugikan bukanlah pelaku ekonomi, melainkan lingkungan.
Meskipun tantangan keberlanjutan ini nyata, masih ada harapan untuk menciptakan perubahan positif.
Pemerintah, pemilik usaha, dan masyarakat Yogyakarta harus bekerja sama mencari solusi berkelanjutan untuk menjaga keindahan dan keberlanjutan kota ini.
Editor : Bahana.