RADAR JOGJA - Sepanjang 2023, penyelenggaraan keistimewaan Yogyakarta urusan kebudayaan telah dilaksanakan di bawah naungan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY bersama Unit Pelaksana Teknis (UPT). Terdiri dari 7 kegiatan dan 24 sub kegiatan dengan total pagu anggaran Rp 335.4 Miliar. Realisasinya mencapai 90 persen atau Rp 301,9 Miliar.
Kepala Dinas Kebudayaan Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, dalam aspek penggunaan Dana Keistimewaan, sampai dengan awal Desember telah terserap 90 persen dari total anggaran yang digunakan untuk 7 kegiatan dan 24 sub kegiatan yang mencakup berbagai aspek kebudayaan.
Kegiatan Adat, Seni, Tradisi, dan Lembaga Budaya mendominasi dengan nilai anggaran sebesar 71 persen. "Pelaksanaan kegiatan kebudayaan tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan objek kebudayaan, dengan fokus pada objek kebudayaan benda sebesar 29 persen dan objek kebudayaan seni sebesar 16 persen," katanya, kemarin (19/12).
Dian menjelaskan realisasi anggaran sampai dengan Desember minggu pertama mencapai Rp 301.9 Miliar dengan persentase sebesar 90 persen. Even kebudayaan tersebut dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, UPTD Taman Budaya, UPTD Museum Negeri Sonobudoyo, dan UPTD Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi (BPKSF).
"Even kebudayaan yang dilaksanakan pada Tahun 2023 memiliki kontribusi terhadap implementasi pengembangan dan pemeliharaan objek kebudayaan yang tercantum dalam Perdais No 3 Tahun 2017," ujarnya.
Even kebudayaan yang dilaksanakan oleh Dinas beserta UPT turut melibatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari seniman, budayawan, akademisi, pelajar, dan ASN. Tercatat sebanyak 70.232 orang telah telibat dalam pelaksanaan event - event kebudayaan yang dilaksanakan pada tahun 2023. Adapun, kompisisi SDM yang terlibat pada event kebudayaan tahun 2023 di antaranya, 59 persen didominasi oleh seniman/budayawan, 33 persen pelajar, 6 persen Aparatur Sipil Negara (ASN), dan sisanya 2 persen yakni akademisi. "Selain melalui even, pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan dilakukan dengan cara pemberian hibah sarana dan prasarana kebudayaan kepada kelompok/paguyuban seni budaya yang ada di DIY," jelasnya.
Tercatat sebanyak 125 set sarana dan prasarana kebudayaan telah diberikan kepada masyarakat melalui kelompok/paguyuban/lembaga seni budaya. Dengan persentase terbesar pada gamelan besi dan pakaian seni.
Berdasarkan sebaran wilayah, hibah terbanyak diberikan di wilayah Kabupaten Sleman dengan prosentase 40 persen dan Bantul sebesar 23 persen. "Penting untuk dicatat bahwa pelaksanaan event kebudayaan juga memiliki dampak terhadap perekonomian di DIY," terangnya.
Dian mencontohkan, beberapa kegiatan yang berdampak ekonomi di antaranya Pasar Kangen yang digelar selama 10 hari diikuti oleh 85 tenant stan kuliner, dan 87 tenant stand kerajinan, barang antik dan jasa. Dikunjungi oleh rata rata sebesar 25 ribu orang per harinya dan mampu menghasilkan omset sebesar Rp 3.74 Miliar.
Ada juga Festival Kebudayaan Yogyakarta yang dilaksanakan selama 22 hari dan memiliki kegiatan turunan sebanyak 111 kegiatan. Melibatkan 2.731 pelaku seni, 38 narasumber budaya, serta 124 pelaku sastra & penerbitan buku. Dengan dampak ekonomi bagi para pedagang yang terlibat hingga Rp 1,80 Miliar. "Selain itu, Jogja Art Books yang digelar selama 6 hari dan dihadiri pengunjung sebanyak 15 ribu orang, mampu menghasilkan omset penjualan buku sebesar Rp 260,516,626," tambahnya.
Adapun, total belanja barang dan jasa yang berhubungan dengan kesenian dan kebudayaan pada tahun 2023 mencapai angka sebesar lebih dari Rp 31 miliar, dengan prosentase terbesar digunakan untuk belanja tenaga kesenian dan kebudayaan sebesar 47 persen dan belanja sarana prasarana kesenian dan kebudayaan sebesar 43 persen.
Selain aspek ekonomi, kontribusi kerja kebudayan menjangkau luas di luar semata hitungan rupiah. Beberapa pencapaian kerja kebudayaan Dinas Kebudayaan DIY di antaranya Penetapan Kawasan Sumbu Filosofi sebagai Warisan Budaya Dunia, Kemenangan film “Kanaka” hasil program pendampingan film “Pitch & Fund” pada Festival Film Dokumenter untuk kategori “Best Short Documentary”
Kemudian Pelaksanaan Lomba Permainan Tradisional “Gobag Sodor”, Terakreditasinya 24 Rintisan Desa Budaya menjadi Desa Budaya, Perayaan Hari Penegakan Kedaulatan Negara bersama dengan Provinsi Babel dan Sumatera Barat, Pembangunan Arena Virtual Museum pada Museum Sonobudoyo, Pelaksanaan pertunjukkan musik klasik Melbourne Symphony Orchestra, dan masih banyak lagi lainnya. (wia/din)
Editor : Satria Pradika