Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Pekerja Sosial RPA Wiloso Projo Umi Sangadah: Mereka Seperti Anak Kandung Sendiri

Khairul Ma'arif • Selasa, 7 November 2023 | 02:23 WIB

TULUS: Pekerja Sosial RPA Wiloso Projo Umi Sangadah. (Khairul Ma
TULUS: Pekerja Sosial RPA Wiloso Projo Umi Sangadah. (Khairul Ma

 

JOGJA - Rumah Pengasuhan Anak (RPA) Wiloso Projo berlokasi di Jalan Gowongan Lor, Gedong Tengen, Kota Jogja, teguh merawat anak terlantar di Jogja.

Selama puluhan tahun, lembaga yang dinaungi Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja tersebut setia menjadi tempat berlindung bagi anak terlantar.

Tentu, ada suka dan dukanya. Termasuk, dialami oleh kerja sosial (peksos) yang ada di RPA Wiloso Projo.

Salah seorang di antaranya adalah Umi Sangadah. Dia menceritakan suka dukanya menjadi pengasuh.

Baca Juga: RPA Wiloso Projo: Didirikan Istri Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1939, Tekun Merawat Anak Terlantar

Sebagai peksos, dia memposisikan anak-anak di RPA Wiloso Projo seperti anak kandungnya sendiri.

Terlebih, mayoritas anak yang diasuh memiliki latar belakang yang kurang baik dari lingkungan keluarganya. "Ada yang broken home atau mendapat kekerasan sehingga ingin tinggal di sini," tuturnya.

Umi tidak berjaga 24 jam di RPA Wiloso Projo. Tetapi, jika ada anak yang mengalami sakit pada malam hari sekali pun, dia akan bersiaga. Dia siap untuk datang kembali untuk merawat. Bahkan, membawanya ke rumah sakit jika diperlukan.

Menurutnya, hanya untuk anak-anak terlantar yang dirawat dan di sekolahkan di Wiloso Projo. Semua kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh Dinsosnakertrans kota Jogja. Tak terkecuali, keperluan sekolah.

Saat ini ada 13 anak terlantar yang berada di RPA Wiloso Projo. Jumlahnya menurun dibanding pada 2022 yang ada sekitar 25 orang.

Baca Juga: Pemprov DIY Batal Investasi, Pengolahan Sampah Dilakukan Desentralisasi

Umi mengaku, ada penurunan karena ada beberapa anak yang sudah ke luar. "Biasanya balik ke keluarganya jika sudah kondusif atau karena sudah bekerja sehingga dapat memenuhinya," katanya.

Rentang waktu di RPA Wiloso Projo tidak bisa disamaratakan. Menurutnya, ada anak yang dari SD hingga SMA. Ada juga dari SD hingga SMP.

Menurutnya, pada dasarnya anak yang diasuh dibatasi hingga pada masa selesai SMA atau sederajat. Kapasitas yang dapat dirawat sebanyak 22 anak.

Lulus dari SMA sederajat biasanya ada yang kuliah ataupun kerja. Umi mengungkapkan, pendampingan dilakukan terus-menerus untuk memulihkan mental anak yang terdampak dari peristiwa yang dialaminya.

Baca Juga: 387 Laki-Laki dan 293 Perempuan, KPU DIY Tetapkan DCT Caleg DPRD DIY, Siap Berkontestasi di Pemilu 2024

Setidaknya membutuhkan sekitar waktu tiga bulan untuk setiap anak yang dapat kembali riang gembira. Mayoritas anak yang baru tiba di RPA Wiloso Projo murung dan pendiam karena berada tempat baru. 

"Ya, kami anggap anak-anak itu seperti anak kami. Dan, kami membayangkan mengalami seperti anak di sini bagaimana. Jadi, pelan-pelan kami tumbuhkan percaya diri," jelasnya.

Umi mengaku, tidak pernah mengalami tindakan kasar dari anak-anak di sini. Terkadang, hanya ada yang emosional tetapi diberitahukan selanjutnya lebih baik lagi bersosial.

Baca Juga: Tiga Ribu Butir Pil Koplo Disita Polresta Jogjakarta

Tetapi, memang tetap ada sejumlah yang ngeyel dan sulit diatur. Dia juga berperan sebagai wali murid karena memang anak yang diasuh semuanya bersekolah.

Umi mengaku ada sejumlah anak yang pernah diasuh terus sudah bekerja kembali ke RPA Wiloso Projo untuk sekadar bertamu. Namun, kedatangannya kadang membawa buah tangan untuk anak-anak yang masih berada di sini.

"Kalau ke sini bawa kue untuk adik-adiknya," ungkapnya. Kadang ada yang juga membantu dan mengajak anak-anak bermain ke tempat wisata. (rul)

Editor : Amin Surachmad
#anak terlantar #RPA Wiloso Projo #Jogja