JOGJA - Pemerintah telah menghentikan TikTok Shop beroperasi di Indonesia hingga direspon penutupan oleh TikTok sekitar sepekan lalu. Keputusan ini diambil setelah TikTok Indonesia sepakat untuk mematuhi peraturan pemerintah terkait perdagangan elektronik.
Ternyata penghapusan TikTok Shop tak menunjukkan hasil signifikan di Pasar Beringharjo Jogja. Sejumlah pedagang, menyebut belum ada dampak bagus dari penutupan TikTok Shop tersebut.
"Belum ada dampaknya, karena masih ada aplikasi lainnya. Lazada, Shopee dan lainnya," kata Neni Andriani pedagang batik ditemui di Pasar Beringharjo Barat Jumat (13/10).
Neni mengaku setuju atas penghentian e-commerce TikTok Shop oleh pemerintah pusat. Sebab, keberadaan perdagangan elektronik itu mematikan pedagang kecil yang jualan secara konvensional di pasar.
Terlebih yang hanya mengandalkan konsumen kebanyakan dari wisatawan. Omzetnya pun langsung merosot tajam. Kondisi ini juga diperparah dengan sepinya kunjungan pasar. Lapaknya pun, hanya dilewati pengunjung saja.
"Kita yang mati, drastis banget semenjak ada online diancurin lagi sama TikTok. Itu kerasa sekali, kalau yang baru baru itu kita lumayan lah masih bisa. Tapi lama lama lagi kok hancur, puncaknya dihantam lagi sama pandemi habis itu terus Tiktok lagi," ujarnya.
Menurutnya, sekalipun ada event di Jogja kondisi saat ini sudah berbeda dengan sebelum marak penjualan lewat e-commerce. Kondisi saat ini tak ada pembeli yang serius dan lesu. Kebanyakan mereka hanya melewati saja dan jalan-jalan ke pasar.
"Nggak ngaruh, karena mereka lihatnya di TikTok disini mereka cuma selfie selfie sama kuliner. Kalau batik pengrajinanya bisa masuk Tiktok jadi kita susah ikut TikTok," jelasnya.
Pun dia tak mampu beralih penjualan lewat online. Ini karena dianggap, mereka yang jualan online memiliki modal besar. Sedangkan yang konvensional banyak tanggungan. Terlebih ditambah adanya persaingan harga.
Baca Juga: Penumpang KA Diproyeksikan Naik hingga Akhir Tahun
"Saya nggak mau lewat online saingannya berat karena yang main gede-gede, kita aja disini ngontrak belum bayar listrik distribusinya. Kalau TikTok ngancurin orang kecil dengan persaingan harga. Harapannya ditutup semua online," serunya.
Menurutnya, sebelum ada perdagangan elektronik ini penjualannya ramai. Namun, usai adanya e commerce ini menurun. Mira
"Sebelum ada Sophee, Lazada, kita ramai. Sekarang 5 potong 3 potong paling sedikit atau bahkan nggak ada. Normal bisa kodian," bebernya.
Pedagang batik lain Yanti mengatakan hal senada. Penghentian TikTok Shop belum terasa dampaknya. Dalam sepekan terakhir ini masih sepi, omzetnya pun masih belum terlihat ada peningkatan.
"Kadang minggu ini ya paling empat sampai lima potong nggak mesti. Sejak dari (minggu) kemarin memang sudah agak terasa sepi," katanya.
Perempuan 46 tahun itu menyebut, pengunjung yang masuk pasar pun hanya melewati saja. Tak sedikit yang membandingkan harga di offline dan online.
"Ya kan nganu (membandingkan), harga itu loh ah murah di online, permasalahan harga di situ. Nggak jualan di online. Nggak sempat e," tambahnya.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) DIY Syam Arjayanti mendorong UMKM di DIY untuk meningkatkan kualitas produknya agar mampu bersaing di era globalisasi ini untuk menarik minat konsumen.
Sebab, pelaku usaha lokal akan sulit untuk mematok harga lebih murah dibanding produk-produk yang dijajakan di e-commerce.
Saat ini pemerintah juga telah menggencarkan Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Sebagian anggaran Pemprov DIY pun wajib digunakan untuk membeli produk dalam negeri khususnya UMKM yang telah terdaftar di e-katalog.
Adapun di 2023 ini, Pemprov DIY menargetkan transaksi dalam e-katalog sebesar Rp 1,5 triliun dan mendaftarkan lebih dari 1.000 UMKM lokal ke dalam e-katalog.
Baca Juga: Dorong UMKM Lewat Co Branding, Wagub PA X: Kita Buat Citra Produk Lokal Berkualitas Berciri Kultural
"Tapi ini memang banyak kendala juga. Misalnya NPWP belum ada, email lupa, password lupa, jadi macam-macam kendala. Ini tantangan kita untuk mendorong agar UMKM bisa bersaing di kancah nasional maupun global," katanya. (wia)
Editor : Amin Surachmad