RADAR JOGJA - Kisah Ir H Djuanda Kartawidjaja akan dituturkan dalam sebuah film. Djuanda ialah pencetus Deklarasi Djuanda, menyatakan bahwa perairan yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia ialah bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah yurisdiksi Republik Indonesia.
Deklarasi Djuanda dicetuskan 13 Desember 1957. Pada saat itu, Djuanda menjadi Perdana Menteri Indonesia. Dengan adanya deklarasi, batas wilayah perairan Indonesia menjadi jelas dan menjamin keamanan dan keselamatan NKRI.
Nama Djuanda memang sudah membumi di masyarakat Indonesia. Nama Djuanda dijadikan nama bandara di Surabaya, nama jalan dan bendungan. Bahkan sosoknya juga ada di mata uang Rp 50 ribuan.
Meski namanya sudah membumi dan akrab di telinga, namun tidak banyak yang tahu kiprah dan sepak terjangnya. Djuanda bukan politisi, orator atau frontliner, tapi dia adalah sosok pahlawan di belakang layar dalam membangun Republik Indonesia.
Atas hal itu, Muhammadiyah menginisiasi dibuatnya film Ir H Djuanda. Lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 14 Januari 1911, Djuanda hanya pernah mengikuti dua organisasi yakni Muhammadiyah dan Paguyuban Pasoendan.
"Hadirnya dalam bentuk film lebih bisa dipahami generasi muda. Pembelajaran sejarah yang benar seperti ini, saya kira jangan kayak kita dahulu menghafal tahun-tahun," jelas Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib di Gedung PP Muhammadiyah Jogja, Senin (7/8/2023).
Menurutnya, pembelajaran sejarah memang harus dikemas dalam bentuk yang menarik generasi muda. Disesuaikan dengan perkembangan jaman dan tidak konservatif.
"Pelajaran tidak lagi dalam bentuk ceramah (saja) tapi film yang menarik juga bisa," imbuhnya.
Film Ir H Djuanda tidak hanya memberikan pengetahuan tentang sejarah biografi saja. Namun, diharapkan dapat diambil hikmah bagi generasi muda, tentang bagaimana berperan serta dalam membangun negeri dengan cara yang tidak melulu berpolitik saja.
Seperti yang diajarkan oleh sosok Djuanda, bagaimana menjadi pahlawan tanpa mengangkat senjata. Sebab membangun bangsa bisa dilakukan dari meja masing-masing melalui pemikiran-pemikiran.
Sutradara Ery Isnanto mengatakan banyak kisah penting yang bisa diangkat pada diri Ir H Djuanda. Namun kali ini akan fokus pada masa kecil hingga kisah saat deklarasi Djuanda digaungkan. Saat ini sedang dilakukan casting pemeran film Ir H Djuanda.
"Banyak peristiwa sejarah tidak tercatat, banyak masa kecil dan apa motivasi yang menjadi trigger pemikirannya dan kisah deklarasi Djuanda," ujarnya.
Selain fokus pada sosok kepahlawanan, sisi lain dari Djuanda akan dituturkan dalam film. Diantaranya ialah kisah nyata seorang muslim yang berpikiran maju, modern, terbuka namun tetap taat kepada Agamanya.
Ir H Djuanda Kartawidjaja terlahir dari keluarga yang cukup terpandang. Djuanda merupakan anak pertama dari pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat. Djuanda mengenyam pendidikan di Holland Inlandsche School atau HIS, yang juga merupakan tempat ayahnya, Raden Kartawidjaja bekerja sebagai guru atau pengajar.
Lulus dari HIS, Djuanda melanjutkan pendidikan di Europeesche Lagere School atau ELS dan Hoogere Burgerschool te Bandoeng alias HBS, lulus pada 1933. HBS saat ini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kemudian, Djuanda menjadi Menteri Perhubungan Republik Indonesia dilanjutkan menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia. Saat itulah, Deklarasi Djuanda dicetuskan dan diperingati sebagai Hari Nusantara setiap tanggal 13 Desember. Peringatan Hari Nusantara dicanangkan pada 1999 oleh Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (lan).
Editor : Amin Surachmad