RADAR JOGJA - Pemprov DIJ berupaya melakukan pengelolaan sampah menggunakan teknologi baru, agar menghasilkan residu seminimal mungkin dan mampu mengolah sampah menjadi energi. Pengadaan teknologi baru ini dikerjakan melalui skema Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Sekprov DIJ Beny Suharsono mengatakan, teknologi baru yang paling tepat akan digunakan untuk mengolah sampah ini masih dikaji. Dengan realisasi pembangunan paling cepat 2024 mendatang. Pada prinsipnya, teknologi yang diharapkan itu sudah bisa memisah sampah dan mengolah sampah.
"Mana plastik, mana kertas, mana yang organik, yang kemudian diolah. Itu nanti keluar produknya tidak ada waste, tidak ada residu. Kalau nol persen saya kira nisbi ya. Intinya residu tidak ada karena menjadi produk turunan, menjadi listrik, kompos, menjadi produk daur ulang,” katanya Jumat (4/8/23).
Beny berharap teknologi yang diterapkan nanti dapat mengurangi gunungan sampah di TPST Piyungan. Terlebih TPST Piyungan masih menggunakan metode sanitary landfill yang membutuhkan lahan luas dan menimbulkan pencemaran.
"Sampah yang masuk kan masuk pabrik, dipilah dan diolah sehingga yang keluar tidak ada lagi residu. Residunya sudah ekonomi, bergulir jadi energi baru dan produk baru,” ujarnya.
Skema KPBU untuk pengelolaan sampah saat ini masih pada tahap penawaran kerja sama atau sounding market. Sembari menunggu investor yang tertarik, pemprov menyiapkan anggarannya. “Saat ini sounding market sudah dilakukan. Dana proyek yang ditawarkan besar sekali. Karena itu kami sekarang sedang menyiapkan anggarannya. Kalau nanti DPRD setuju, ya kami ajukan. Pengajuan sekitar Rp 100 miliar itu nanti kita siapkan tahun 2024," jelasnya.
Selain itu, ke depan Pemprov DIJ juga akan berupaya untuk mengatur tata cara pengiriman sampah ke TPST Piyungan. Misalnya dengan menjadwalkan waktu pengiriman truk sampah. Ini juga dibutuhkan kerja sama serta kesadaran para petugas truk sampah untuk mentaati jadwal yang telah ditentukan.
"Ini dilakukan agar (sampah) tidak numpuk. Tapi kalau tidak disiplin ya seperti sekarang ini. Antre panjang di pinggir jalan, semua pada marah, bau, dan bikin macet. Lindinya juga tetap mengalir, nanti jadi ramai lagi," terangnya.
Pemprov DIJ pun mendorong Pemkot Jogja untuk secepatnya melakukan desentralisasi sampah. Sebab masih ada sisa sampah berasal dari kota yang tidak tertampung di TPST Piyungan maupun Kulon Progo.
"Rata-rata sampah dari kota mencapai 200 ton per hari. Jumlah ini baru sekitar 100 ton yang bisa diangkut ke TPST dan 15 ton ke Kulon Progo. Akibatnya, tumpukan sampah masih bertebaran di mana-dimana," tambahnya. (wia/laz)