JOGJA - TPA Piyungan yang ditutup sementara waktu menjadikan tumpukan sampah terjadi di beberapa titik di Kota Jogja. Sering kali, membakar sampah menjadi solusi yang cepat dan mudah dalam menghilangkan sampah.
Namun, Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Wikan Indrarto tak menyarankan pengolahan sampah dengan cara dibakar. Cara ini memiliki lebih banyak dampak negatif bagi kesehatan. Utamanya bagi anak.
Dia menjelaskan, pembakaran sampah akan menimbulkan polusi udara. Jika asap pembakaran sampah terhirup, akan memicu terjadinya peradangan di jalan napas yang dilalui oleh polutan atau partikel kecil.
Menurut Wikan, pada anak yang memiliki bakat alergi, peradangan akan terjadi dengan peluang yang lebih berat. Bahkan, bisa menyebabkan kekambuhan asma pada anak yang lahir dari keluarga yang memiliki riwayat asma.
"Pada anak yang tidak memiliki bakat alergi akan dapat menimbulkan keluhan bersin, batuk, nyeri tenggorokan, bahkan radang, bisa menjadi sesak napas," ujar Wikan saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (3/8).
Dia menuturkan, asap pembakaran sampah mengandung berbagai partikel kecil. Umumnya di dalam asap tersebut mengandung zat karbon arang. Lalu, juga mengandung bahan kimia berbahaya lainnya. Misalnya, zat logam berat. Tergantung bahan atau sampah yang dibakar.
"Pada umumnya karbon zat kimia yang terjadi pada proses pembakaran. Kemudian partikel logam berat, tergantung dari partikel yang dibakar. Terutama sampah yang sebetulnya bisa didaur ulang, tapi dibakar. Itu akan menimbulkan pelepasan logam berat itu," jelasnya.
Sementara itu, salah satu warga Baciro, Florentina Valma, mengaku jarang mengolah sampah dengan cara dibakar. Alasannya, tak ada lahan yang cukup sebagai tempat pembakaran.
Belum lagi, menurutnya, pembakaran sampah hanya akan menimbulkan masalah baru. Ini lantaran tempat tinggalnya yang berdekatan antar satu rumah dengan rumah lainnya.
"Selama TPA Piyungan tutup untungnya di sekitar rumah aman-aman saja. Di kampung ada tempat sampah yang sudah dipilah-pilah dan tidak pernah bakar sampah juga karena asapnya akan mengganggu warga yang lain," ungkapnya. (isa)
Editor : Amin Surachmad