Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Macapat Tatag Teteg Tutug Libatkan 200 Pelestari Sastra

Editor Content • Selasa, 30 Mei 2023 | 16:10 WIB
MELAGUKAN : Peserta mengikuti pertunjukan macapat tatag teteg tutug di Hall Phytagoras, Taman Pintar, Jogja, Senin (29/5). Sebanyak 200 peserta dari 14 paguyuban macapat tiap kemantren mengikuti kegiatan itu (ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA)
MELAGUKAN : Peserta mengikuti pertunjukan macapat tatag teteg tutug di Hall Phytagoras, Taman Pintar, Jogja, Senin (29/5). Sebanyak 200 peserta dari 14 paguyuban macapat tiap kemantren mengikuti kegiatan itu (ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA – Sebanyak 200 pelestari sastra lokal terlibat dalam kegiatan macapat yang digelar oleh Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Kota Jogja. Mengangkat tema Tatag Teteg Tutug kegiatan digelar di Hall Phytagoras, Taman Pintar Jogjakarta pada 29-31 Mei. Acara tersebut bagian perayaan HUT ke-76 Pemerintah Kota Jogjakarta.

Kasie Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Jogja Ismawati Retno Wigiarti mengatakan, tema Tatag Teteg Tutug diangkat agar dapat menumbuhkan mental yang kuat di kalangan masyarakat Kota Jogja dalam hal pelestarian budaya. "Hal ini diartikan sebagai kuat mental menjalani tantangan, konsisten untuk terus teguh dalam pendirian dan tanggung jawab sampai tuntas dalam mengerjakan sesuatu," ujarnya kemarin (29/5)

Isma mengatakan dalam acara tersebut ada sebanyak 200 pelestari sastra lokal Macapat melantunkkan donga tolak bala dalam bentuk tembang pangkur, serat piwulang patraping gesang dalam bentuk tembang dhandhangula, kinanthi dan mijil. "Seperangkat gamelan akan ditabuh oleh pengrawit mengiringi lantunan tembang pada gelar macapat ini," katanya.

Isma membeberkan peserta berasal dari paguyuban macapat di 14 empat belas Kemantren di Kota Jogja. "Menariknya mereka hadir mengenakan busana tradisional gagrak Ngayogyakarta jangkep. Surjan atau kebaya lurik, kain jarik, lengkap dengan keris dan blangkon motif Jogjakarta," bebernya.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Jogja Yetti Martanti menuturkan, macapat selama ini menjadi kekayaan intelektual masyarakat Jawa yang perlu terus dipertahankan dan diselaraskan dengan perkembangan zaman. "Sejak awal kemunculannya, berbagai jenis tembang macapat dan cara pelantunannya sudah mengakar dalam kehidupan sehari-hari nenek moyang," jelanya.

Yetti mengatakan, acara tersebut setiap tahun rutin diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Jogja. Sebab menurutnya, macapat sudah menjadi nafas keseharian dan sesuai dengan irama hidup orang Jawa. "Tidak mengherankan jika pada zaman dahulu, sering ditemui orang bekerja sambil rengeng - rengeng (bersenandung)," tambahnya.

Sementara itu, salah satu juri Ratun Untoro, turut mengapresiasi agenda Gelar Macapat ini. "Ini bentuk perhatian, dukungan dan keterlibatan Pemkot Jogja dalam pembinaan, pelindungan, dan pelestarian macapat".

Menurut Ratun, saat ini macapat sudah menjadi ilmu yang perlu dipelajari struktur dan pola pelantunannya. Karena macapat sudah menjadi ilmu, dan perlu terus dipelajari dan dipraktikkan berulang-ulang baik saat formal maupun informal. (cr2/bah) Editor : Editor Content
#macapat #Jogjakarta