Kasie Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Jogja Ismawati Retno Wigiarti mengatakan, tema Tatag Teteg Tutug diangkat agar dapat menumbuhkan mental yang kuat di kalangan masyarakat Kota Jogja dalam hal pelestarian budaya. "Hal ini diartikan sebagai kuat mental menjalani tantangan, konsisten untuk terus teguh dalam pendirian dan tanggung jawab sampai tuntas dalam mengerjakan sesuatu," ujarnya kemarin (29/5)
Isma mengatakan dalam acara tersebut ada sebanyak 200 pelestari sastra lokal Macapat melantunkkan donga tolak bala dalam bentuk tembang pangkur, serat piwulang patraping gesang dalam bentuk tembang dhandhangula, kinanthi dan mijil. "Seperangkat gamelan akan ditabuh oleh pengrawit mengiringi lantunan tembang pada gelar macapat ini," katanya.
Isma membeberkan peserta berasal dari paguyuban macapat di 14 empat belas Kemantren di Kota Jogja. "Menariknya mereka hadir mengenakan busana tradisional gagrak Ngayogyakarta jangkep. Surjan atau kebaya lurik, kain jarik, lengkap dengan keris dan blangkon motif Jogjakarta," bebernya.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Jogja Yetti Martanti menuturkan, macapat selama ini menjadi kekayaan intelektual masyarakat Jawa yang perlu terus dipertahankan dan diselaraskan dengan perkembangan zaman. "Sejak awal kemunculannya, berbagai jenis tembang macapat dan cara pelantunannya sudah mengakar dalam kehidupan sehari-hari nenek moyang," jelanya.
Yetti mengatakan, acara tersebut setiap tahun rutin diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Jogja. Sebab menurutnya, macapat sudah menjadi nafas keseharian dan sesuai dengan irama hidup orang Jawa. "Tidak mengherankan jika pada zaman dahulu, sering ditemui orang bekerja sambil rengeng - rengeng (bersenandung)," tambahnya.
Sementara itu, salah satu juri Ratun Untoro, turut mengapresiasi agenda Gelar Macapat ini. "Ini bentuk perhatian, dukungan dan keterlibatan Pemkot Jogja dalam pembinaan, pelindungan, dan pelestarian macapat".
Menurut Ratun, saat ini macapat sudah menjadi ilmu yang perlu dipelajari struktur dan pola pelantunannya. Karena macapat sudah menjadi ilmu, dan perlu terus dipelajari dan dipraktikkan berulang-ulang baik saat formal maupun informal. (cr2/bah) Editor : Editor Content