Pengelola Museum Tani Jawa Rahayu Liyantini mengatakan, luku memang menjadi salah satu koleksi andalan di Museum Tani Jawa. Di tempat ini pengunjung bisa melihat langsung berbagai jenis luku. Sekaligus memahami tentang bagaimana alat yang digunakan untuk membajak sawah itu bekerja.
Rahayu membeberkan, luku yang disimpan di museum ini juga tidak hanya satu macam saja. Ada tiga luku yang berbeda-beda ukuran dan mata pisaunya. Alat itu dibuat bermacam-macam, karena disesuaikan fungsinya untuk membajak dengan jenis tanah berbeda-beda. Seperti luku untuk tanah keras, tanah basah atau sewah, dan tanah perkebunan.
"Di mueseum ini tidak hanya melihat koleksinya saja, namun juga bisa merasakan sensasi dan mengetahui bagaimana petani tradisional bekerja. Termasuk menaiki luku yang ditarik sapi di sawah atau menggunakan ani-ani," ujar Rahayu kepada Radar Jogja, Jumat (19/5).
Ia menyatakan, antara luku dengan masyarakat Padukuhan Candran memang tidak bisa dipisahkan. Tak lain karena mayoritas profesi masyarakat di wilayah ini merupakan petani. Bahkan meski sekarang sudah banyak traktor, sebagian petani di Padukuhan Candran ada yang masih menggunakan luku karena juga masih memelihara sapi atau kerbau.
Museum Tani Jawa Indonesia dirintis dan digagas Kristya Bintara pada 1998. Tujuan didirikannya museum ini untuk mewariskan nilai-nilai kejuangan petani bagi generasi penerus. Nilai-nilai meliputi sikap jujur, sederhana, kerja keras, toleransi, dan selalu bersyukur atas setiap berkah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
Museum ini menyimpan, mengkonservasi, dan memamerkan semua peralatan pertanian tradisional, adat, dan tradisi petani. Hal itu untuk tujuan pendidikan bagi pengunjung. Jumlah koleksinya mencapai sekitar 200 buah.
"Koleksi-koleksi itu, antara lain, luku, garu, cangkul, keranjang, lesung, lumpang, sabit, ani-ani, caping, wajan, cowek, kendil, anglo, keren, kenthongan, gosrok, dan lain-lain," tambah Rahayu. (inu/laz) Editor : Editor Content