Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Di Museum Tani Jawa Bisa Rasakan Naik Luku

Editor Content • Minggu, 21 Mei 2023 | 15:35 WIB
BANYAK KOLEKSI: Rahayu Liyantini dan penampakan luku di Museum Tani Jawa yang berlokasi di Padukuhan Candran, Kebonagung, Imogiri, Bantul. (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
BANYAK KOLEKSI: Rahayu Liyantini dan penampakan luku di Museum Tani Jawa yang berlokasi di Padukuhan Candran, Kebonagung, Imogiri, Bantul. (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Alat pembajak sawah tradisional atau di Jogjakarta lebih dikenal dengan luku, terus dilestarikan di Museum Tani Jawa. Tak hanya bisa melihat wujud dan memahami tentang fungsinya. Di museum yang berlokasi di Padukuhan Candran, Kebonagung, Imogiri, Bantul, itu pengunjung juga bisa merasakan sensasi menaiki luku.
Pengelola Museum Tani Jawa Rahayu Liyantini mengatakan, luku memang menjadi salah satu koleksi andalan di Museum Tani Jawa. Di tempat ini pengunjung bisa melihat langsung berbagai jenis luku. Sekaligus memahami tentang bagaimana alat yang digunakan untuk membajak sawah itu bekerja.
Rahayu membeberkan, luku yang disimpan di museum ini juga tidak hanya satu macam saja. Ada tiga luku yang berbeda-beda ukuran dan mata pisaunya. Alat itu dibuat bermacam-macam, karena disesuaikan fungsinya untuk membajak dengan jenis tanah berbeda-beda. Seperti luku untuk tanah keras, tanah basah atau sewah, dan tanah perkebunan.
"Di mueseum ini tidak hanya melihat koleksinya saja, namun juga bisa merasakan sensasi dan mengetahui bagaimana petani tradisional bekerja. Termasuk menaiki luku yang ditarik sapi di sawah atau menggunakan ani-ani," ujar Rahayu kepada Radar Jogja, Jumat (19/5).
Ia menyatakan, antara luku dengan masyarakat Padukuhan Candran memang tidak bisa dipisahkan. Tak lain karena mayoritas profesi masyarakat di wilayah ini merupakan petani. Bahkan meski sekarang sudah banyak traktor, sebagian petani di Padukuhan Candran ada yang masih menggunakan luku karena juga masih memelihara sapi atau kerbau.
Museum Tani Jawa Indonesia dirintis dan digagas Kristya Bintara pada 1998.  Tujuan didirikannya museum ini untuk mewariskan nilai-nilai kejuangan petani bagi generasi penerus. Nilai-nilai meliputi sikap jujur, sederhana, kerja keras, toleransi, dan selalu bersyukur atas setiap berkah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
Museum ini menyimpan, mengkonservasi, dan memamerkan semua peralatan pertanian tradisional, adat, dan tradisi petani. Hal itu untuk tujuan pendidikan bagi pengunjung. Jumlah koleksinya mencapai sekitar 200 buah.
"Koleksi-koleksi itu, antara lain, luku, garu, cangkul, keranjang, lesung, lumpang, sabit, ani-ani, caping, wajan, cowek, kendil, anglo, keren, kenthongan, gosrok, dan lain-lain," tambah Rahayu. (inu/laz) Editor : Editor Content
#oldies #Museum Tani Jawa