GREGORIUS BRAMAMTYO, Jogja, Radar Jogja
Sekolah privat tersebut resmi beroperasi sejak 2020 lalu. Ide pendiriannya sebenarnya sudah muncul sejak Koko masih menjadi atlet. Namun baru bisa terealisasi pada 2020 ketika dalam masa pandemi. Ia mengaku, ingin berkontribusi bagi atlet-atlet voli muda, baik untuk DIJ, nasional, maupun untuk klub manapun.
Baginya, entah si pemain nanti mau jadi apa. Intinya dia sudah berbuat untuk mereka. Orangtua menitipkan anaknya kepadanya berarti mereka percaya. “Itu yang saya optimalkan,” katanya kepada Radar Jogja.
Coprazz Private Volleyball sendiri bukanlah klub resmi. Melainkan seperti les privat di bidang bola voli. Di sekolah privat itu, Koko menyiapkan atlet dari klub manapun. Ia juga membuka peluang bagi atlet dari luar DIJ yang ingin mendaftar. Namun, sekolahnya memiliki batas kuota di tiap kelas. Sekolah privat tersebut memiliki empat kelas yakni pemula putra, pemula putri, remaja putra, dan remaja putri. Masing-masing kelas memiliki kuota 18 orang. “Yang mau masuk tapi kuota masih penuh, mereka harus antri. Kalau antrinya terlalu banyak, kami adakan seleksi,” jelas suami Ika Dhiaz ini.
Pada awal pendiriannya, sekolah tersebut disiapkan dengan modal Koko pribadi. Tak ada dukungan dari pihak luar. Semua peralatan dia siapkan terlebih dulu. Awalnya berlatih di lapangan pribadi miliknya di Minggiran, Mantrijeron, Kota Jogja. Kemudian pindah ke GOR Kridosono karena pengaruh cuaca, seperti hujan. Pada awalnya, siswa berlatih pada pagi hari karena saat itu kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah belum tatap muka. Setelah KBM digelar tatap muka, latihan beralih pada sore hari. “Mereka di klub punya pelatih, tapi untuk menambah kemampuan, ya lewat kami. Akhirnya ter-support atlet yang ada di klub itu,” ujarnya.
Koko juga menyiapkan GOR di Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD) untuk mengenalkan atlet muda dengan suasana lapangan indoor. “Sekarang latihan di STTKD sama Kridosono. Kalau di luar ada pengaruh cuaca dan angin, landasan juga berbeda, mau nggak mau harus kami sesuaikan,” ungkap pria 41 tahun ini.
Dalam menjalankan sekolah privatnya, Koko dibantu dua pelatih lain dan tiga ofisial. Dalam seminggu mereka menggelar dua kali latihan.Saat awal terbentuk, Koko hanya membuka tiga kelas. Saat itu, kelas pemula putra digabung dengan putri. Kuotanya pun hanya sebanyak 12 orang di masing-masing kelas. Namun yang mendaftar cukup antusias. Bahkan dari luar daerah. Ada total 80 atlet yang mendaftar, sementara kuota hanya tersedia 36. Orangtua atlet dari luar daerah pun turut menanyakan soal ketersediaan mess. “Mungkin nantinya itu bisa jadi pertimbangan untuk mempersiapkan sarana yang lebih komplit, entah sekolah atau mess,” tuturnya.
Coprazz Private Volleyball bisa dikatakan cukup berkembang meskipun belum genap berusia tiga tahun. Beberapa anak didiknya sudah menembus level Proliga dan Sirkuit Nasional. Sejauh ini ada lima atlet putra dan tiga atlet putri yang bermain di Proliga 2023. Mereka adalah Imam Ahmad Faisal, Ilham Akbar, Faisal Ashar Arafi, Ade Candra Rahmawan, dan Gigih Izhul yang memperkuat Jakarta BNI 46. Lalu ada Siti Hartati, Syavina Amelia Erry, dan Hawa Nur Fitria di klub Bandung BJB Tandamata. “Walapun mereka klubnya dari Ganevo, tapi awalnya kami juga ikut membantu mereka untuk bisa ke level tersebut,” tandas Koko.
Ia berharap sekolah privatnya bisa semakin berkembang. Saat ini, ia mencoba untuk menyiapkan tim pelatih terlebih dulu. Minimal yang bisa mendekati kemampuannya dari cara melatih meskipun nilainya tak sama. Selain itu juga yang sepemikiran dan satu visi misi dengannya. Hal tersebut yang menjadi dasar untuk mengembangkan sekolah privat ini. “Terus terang target saya di tiap kabupaten ada, karena sudah pada minta. Cuma masih kendala di waktu dan tenaga,” jelasnya. (din) Editor : Editor Content