Usut punya usut ternyata Sunan Agung gerah penggalih. Sakit secara psikis gara-gara jengkel dengan sikap Kasunanan Giri. Raja dan ulama keturunan Sunan Giri Prapen itu sampai sekarang belum bersedia tunduk di bawah Negara Kesatuan Kerajaan Mataram (NKKM). Giri menjadi satu-satunya kerajaan yang belum takluk.
Sikap Giri itu menjadi bahan curhat Sunan Agung saat dijenguk adiknya Ratu Pandansari. Adik kesayangan Sunan Agung itu baru saja dinikahkan dengan penguasa Surabaya Pangeran Pekik. Status Pekik bukan hanya adik ipar. Dia juga menjadi besan raja Mataram. Salah satu putrinya, hasil dari perkawinan terdahulu, Ratu Pembayun telah menikah dengan putra mahkota Mataram, Raden Mas (RM) Sayidin. Kelak Sayidin ini menjadi pengganti Sunan Agung. Bergelar Susuhunan Amangkurat I atau Hamangkurat Agung.
Perkawinan antara Mataram dan Surabaya itu dapat dikatakan sebaga pernikahan politik. Surabaya digempur lima kali oleh Mataram akhirnya bersedia tunduk. Takluknya Surabaya tak perlu ada tetesan darah. Justru dari perkawinan itu, Sunan Agung memiliki cucu keturunan dua trah besar. Mataram dan Surabaya. Cucu itu naik takhta dengan sebutan Susuhunan Amangkurat II atau Hamangkurat Amral.
Dari sisi trahing kusuma rembesing madu, darah dari Surabaya memiliki keunggulan. Pangeran Pekik adalah keturunan ketujuh dari Sunan Ampel Denta. Sunan Ampel guru dari Sunan Giri. Dengan begitu dari sisi trah, kasta Pekik lebih tinggi dari Giri.
Sunan Agung menyadari tidak mungkin berhadapan langsung dengan Giri. Penguasa Giri bukan hanya raja. Tapi juga pendeta atau ulama yang punya cukup berpengaruh. Bahkan secara spiritual, kewibawaan Giri diakui masyarakat secara luas. Ada hambatan psikologis ketika harus menyerang Giri pada 1636.
Dari sejarahnya, Kasunanan Giri merupakan guru spiritual Mataram. Bahkan jauh sebelumnya Sunan Giri Prapen juga diakui sejak era Sultan Hadiwijaya. Legitimasi Hadiwijaya sebagai sultan Pajang penerus Kerajaan Demak diperoleh dari Sunan Giri. Begitu pula dengan Panembahan Senopati.
Kasunanan Giri sejak awal Mataram sangat dihormati. Kakek Sunan Agung, Panembahan Senopati merasa percaya diri (pede) sebagai penguasa Jawa penerus Pajang setelah mendapatkan pengakuan Sunan Giri Prapen.
Memang saat Mataram hendak menyerang Giri, Sunan Prapen sudah wafat.
Penggantinya adalah Panembahan Kawis Guwa juga sudah meninggal. Tak lagi memakai gelar sunan. Begitu pula penerus Kawis Guwa juga tak lagi disebut sunan. Gelarnya Panembahan Agung.
Di era Panembahan Agung itulah upaya penaklukan Giri dilakukan. Secara cerdik raja Mataram tidak turun langsung. Dia meminta ipar dan besannya Pangeran Pekik yang memimpin operasi. Didampingi istrinya Ratu Pandansari. Mereka mendapatkan bantuan operasional 10.000 real. Ditambah emas, perak, dan bahan-bahan sutera halus plus bahan tekstil lainnya.
Sebelum berangkat, Pekik dan Pandansari meminta restu dengan mencium kaki raja. Sunan Agung meyakini kekuatan spiritual Pekik lebih besar dari Giri. Sebab, Pekik keturunan dari Sunan Ampel. Giri adalah murid Sunan Ampel. Secara moril, itu menjadi modal kemenangan.
Perlawanan Giri berlangsung sengit. Giri mendapatkan bantuan dari anak angkatnya seorang Tionghoa Islam bernama Endrasena. Dia punya 250 anak buah yang punya kemampuan sebagai penembak jitu. Sniper. Awalnya pasukan Mataram keteteran.
Namun kemudian bisa berbalik memukul mundur. Endrasena tewas dalam pertempuran itu. Giri akhirnya jatuh. Panembahan Giri akhirnya menyerah. Dia ditangkap. Kemudian dibawa dengan tandu menuju Surabaya. Selanjutnya, diboyong ke Mataram. Panembahan Giri menjadi tahanan politik. Setelah tinggal beberapa tahun di Kerta, ibu kota Mataram, Panembahan Giri dikembalikan ke daerahnya. Sejak itu Giri resmi menjadi bawahan Mataram berkat jasa Pangeran Pekik. (laz) Editor : Editor Content