Mereka juga dijerat dengan pasal-pasal yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Dituduh melakukan penghasutan, menyerbarkan berita bohong dan upaya makar. Menggulingkan pemerintahan yang sah.
Padahal apa yang disuarakan para ulama Tembayat itu sesungguhnya merepresentasikan kegelihan rakyat. Selama menghimpun kekuatan, mereka menyamar sebagai pengemis. Namun para pengemis itu tidak bisa dianggap seperti orang biasa. Mereka lebih sebagai orang-orang spiritual yang mengembara. Ini kelak akan muncul kembali pada 1677 dan 1678 saat Mataram sudah dipimpin Susuhunan Amangkurat Agung, anak Sultan Agung. Perlawanan dipimpin keturunan Tembayat, Panembahan Rama atau Raden Kajoran.
Menghadapi serangan-serangan itu, raja tidak lagi mengedepankan cara kekerasan. Namun mulai menggunakan cara-cara persuasif. Dialog. Bahkan para ulama yang telah ditahan kemudian dilepas dari penjara. Mereka mendapatkan pengampunan. Sultan Agung memberikan grasi dan abolisi bagi para tahanan politik tersebut. Bahkan pada 1633, raja memutuskan membuat kebijakan drastis.
Mengadakan kunjungan kerja (kunker) secara mencolok dan besar-besaran. Langkah ini dalam rangka meredam aksi-aksi itu sekaligus upaya pendekatan ke trah Tembayat. Dalam kunjungan itu, Sultan Agung melakukan ziarah ke makam Sunan Tembayat, Klaten.
Kunjungan raja Mataram itu terhitung langka. Sebab, Tembayat tidak mendapatkan tempat istimewa di mata Mataram. Makam Sunan Tembayat lebih banyak mendapatkan perhatian dari orang-orang kecil, pedagang, dan perajin. Bagi Sultan Agung, kunjungan ke makam keramat itu merupakan pengorbanan harga diri dan dilakukan karena keterpaksaan.
Selama ini Tembayat lebih pro dengan pendahulu Mataram, yakni Kasultanan Pajang. Karena itu, Tembayat balik melawan saat tahu Mataram gagal menyerang Batavia.
Inilah yang menjadi latar belakang perlunya kekuasaan spiritual itu didamaikan dengan raja Mataram. Rekonsiliasi melalui tabayun kunker Sultan Agung. Usai kunjungan itu Sultan Agung memerintahkan diadakan pemugaran makam. Gapura dan beberapa bangunan pendapa dibangun. Kondisi makam Tembayat diperindah. Kontraktor dan para pekerjanya khusus didatangkan dari Mataram.
Usai berziarah itu, raja memutuskan memugar kompleks makam dan masjid Sunan Tembayat. Pertama bangunan yang didirikan adalah gapura dengan candra sengkala Wisaya Anata Wisiking Ratu. Gapura selesai dibangun pada 8 Juli 1633. Sultan Agung juga membangun pendapa.
Usaha memperindah makam dan masjid Sunan Tembayat dilanjutkan. Patih Singaranau ditunjuk sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) yang melaksanakan tugas tersebut. Singaranu mendapatkan perintah memugar makam keramat itu. Batu-batu diangkut dari Mataram ke Bayat. Namun batu tidak diizinkan dibawa dengan kuda maupun angkutan lainnya. Harus diusung oleh orang-orang yang pantas. Mereka dengan penuh rasa hormat duduk bersila dalam deretan panjang dan secara beranting. Tak kurang 300 ribu orang terlibat dalam proyek pemugaran makam dan masjid Sunan Tembayat.
Panembahan Purbaya ditunjuk sebagai pengawas. Hasil dari renovasi itu luar biasa. Kedaton makam Sunan Tembayat menjadi sangat indah. Di kanan dan kiri terdapat paseban dan pintu gerbang menjulang ke atas. Tembok yang melingkari dibuat dari batu.
Setelah proyek dinyatakan selesai, citra Sultan Agung menjadi terangkat. Raja menjadi termasyur. Upaya membangun citra berhasil. Tak ada lagi ketegangan. Bahkan tersiar kabar keistimewaan raja yang melakukan salat Jumat di Makkah dekat dengan Kakbah.
Tak lama kemudian, Sultan Agung memutuskan membangun makam Girilaya yang coraknya mirip dengan makam dan masjid Sunan Tembayat. Letak Girilaya ada di selatan ibu kota Mataram, Kerta. (laz) Editor : Editor Content