Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menyerah,  Diserang Meriam Tinja Bikin Prajurit Muntah

Editor Content • Jumat, 14 April 2023 | 16:48 WIB
SIAP MENANG: KPH Purbodiningrat diapit Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa di sela kunjungan di Kelompok Wanita Tani (KWT) Galeri Batik Jasmine Nologaten, Rabu (2/12).(ISTIMEWA)
SIAP MENANG: KPH Purbodiningrat diapit Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa di sela kunjungan di Kelompok Wanita Tani (KWT) Galeri Batik Jasmine Nologaten, Rabu (2/12).(ISTIMEWA)
 

RADAR JOGJA - Pengepungan pasukan Mataram terhadap benteng VOC di Batavia dinyatakan gagal. Kegagalan itu terjadi pada 1628. Ini bisa disebut sebagai penyerbuan pertama. Setelah Panglima Tentara Nasional Mataram (TNM) Tumenggung Bahureksa gugur, pimpinan operasi dialihkan ke Tumenggung Mandurareja dan Upa Santa. Keduanya kini memimpin pengepungan atas Benteng Hollandia.

Dalam pertempuran itu, Mandurareja ingin mengulang sukses saat menaklukan Surabaya. Kala itu aliran Sungai Brantas dibendung. Penduduk Surabaya mengalami krisis air. Dampak dari dibendungnya Brantas cukup efektif. Masyarakat Surabaya kesulitan pangan. Muncul berbagai penyakit. Dampaknya banyak penduduk tewas. Ini menyebabkan penguasa Surabaya Pangeran Pekik mengangkat bendera putih. Menyerah tanpa syarat.

Kini langkah itu diulang. Aliran Sungai Ciliwung di Batavia dibendung. Meski alirannya lebih kecil dibandingkan Brantas, namun upaya membendung Ciliwung justru gagal. Salah satu penyebabnya, Brantas memiliki saluran pembuangan di Sungai Porong. Sedangkan Ciliwung tidak punya. Saluran pembuangan.

Faktor lainnya Belanda telah membakar gudang padi Mataram di Cirebon dan Tegal. Kekurangan pangan ini membuat daya tahan prajurit Mataram terbatas. Pengepungan Benteng VOC yang direncanakan beberapa bulan buyar. Hanya mampu bertahan sebulan. Penyebabnya karena logistik yang tersedia menipis.

Kegagalan menguasai Benteng Kompeni ini membuat Mandurareja dan Upa Santa harus menghadapi hukuman. Keduanya diajukan ke mahkamah militer Mataram. Susuhunan Agung Hanyakrakusuma menjatuhkan hukuman berat. Cucu Ki Juru Mertani itu harus menghadapi algojo. Keduanya tewas ditusuk keris oleh Tumenggung Sura Agul-Agul sebagai jaksanagara yang ditunjuk menjalankan eksekusi putusan mahkamah militer.

Gagal pada serangan pertama tak menyurutkan semangat Susuhunan. Rencana kedua mengepung Batavia kembali dilakukan. Serangan kedua dilancarkan pada  1629. Pasukan dipimpin Tumenggung Sura Agul-Agul, Pangeran Purbaya dan Panembahan Adipati Juminah. Mereka berangkat mulai Mei. Disusul pasukan kloter kedua pada Juni dan Juli. Semua merupakan pasukan infantri dilengkapi kaveleri dan arteleri. Pasukan berkuda dengan membawa sejumlah meriam.

Ada dua meriam pusaka yang dibawa. Meriam Kyai Segarawana dan Kyai Syah Brasta. Munculnya kedua meriam ini membikin jengkel VOC. Sebab, 14 tahun sebelumnya, meriam itu merupakan hadiah Kompeni kepada Mataram. Diberikan pada 1615 ke Istana Kotagede. Namun kini, meriam itu dipakai Susuhunan menyerang VOC, si pemberi hadiah. Jejak kedua meriam itu sekarang bisa dilihat di alun-alun utara Keraton Surakarta.

Kekuatan angkatan bersenjata Mataram diperkuat dengan angkatan laut dari Sampang Madura dan Gresik. Kapal-kapal dari Jawa Timur itu merapat ke Batavia setelah pasukan darat tiba di Batavia. Pertempuran hebat mulai terjadi pada Agustus hingga September 1629.

Di tengah pertempuran itu pada 17 September 1629, Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterz Coen masih sempat melihat pertahanan lawan. Namun tiga hari kemudian, dia jatuh sakit. Tak lama kemudian meninggal. Coen dimakamkan pada 22 September di tengah serangan masif dari Mataram.

Belanda melakukan serangan balik. Pangeran Purbaya menjadi bidikan. Pasukan Kompeni menembaki putra Senopati yang tengah terbang di angkasa sambil menghisap pipa rokoknya dengan tenang. Purbaya ternyata sakti. Kebal. Tidak mempan ditembak peluru. Hanya dengan jari telunjuknya dia menunjuk ke arah tembok Benteng VOC. Tiba-tiba ada lubang sebesar manusia di tembok itu.

Pertempuran dan saling serang terus terjadi. Tapi tak ada pemenangnya. Pasukan Mataram tetap saja belum berhasil memukul mundur musuhnya. Pasukan VOC masih tetap bertahan di bentengnya. Kedua pihak sama-sama mengalami kerugian.

Baik saat perang di laut maupun darat. Saat terdesak, VOC mengalami kekurangan mesiu. Sekarang mereka menggunakan tinja sebagai amunisi. Tembakan meriam berisi tinja itu membuat pasukan Mataram muntah-muntah.

Purbaya memutuskan pulang balik ke Mataram melalui Jepara. Dia menasihati keponakannya agar perang segera diakhiri. Alasannya, orang-orang Belanda datang untuk berdagang. Nasihat itu didengar Susuhunan.

 

Raja memutuskan mengakhiri pengepungan. Dia ingin setelah pengepungan itu VOC mempunyai rasa takut terhadap dirinya.  Belanda menyambut gembira keputusan Susuhunan itu. Mereka mengirimkan utusan dan aneka macam hadiah. Belanda menjadi sahabat dan sekutu dalam menjaga istana. (laz)

 

  Editor : Editor Content
#Benteng VOC #Benteng Hollandia