RADAR JOGJA - Sampah jika diolah dengan tepat bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Hal itu yang dilakukan Dikko Andry Kurniawan. Dengan mengolah limbah kresek menjadi benang tenun yang kemudian dibuat produk fashion seperti topi, anting, casing handphone, hingga tas, ia mendapat omzet jutaan rupiah per bulan.
IWAN NURWANTO, Bantul, Radar Jogja
Semangat melestarikan alam merupakan salah satu alasan Andry untuk melahirkan brand Sawokecik. Memulai bisnisnya pada tahun 2020, alumni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini memanfaatkan berbagai jenis sampah plastik menjadi berbagai produk fashion. Seperti tas kresek yang dibuat benang tenun untuk kemudian dikombinasikan dengan topi, jaket, dan tas. Hingga tutup botol yang dibuat menjadi anting dan casing handphone.
Dalam proses pembuatannya, Andry mengaku bisa mengolah 30 sampai 35 buah plastik kresek untuk dibuat satu meter persegi benang tenun. Hasil tenunan plastik itulah yang kemudian dikombinasikan dengan berbagai produk fashion agar menambah kesan unik dan khas dari usahanya.
Diungkapkan sarjana manajemen bisnis ini, minat konsumen terhadap produk-produk ramah lingkungan tergolong tinggi. Sebab, produknya diminati para pembeli dari berbagai daerah melalui penjualan online. Bahkan dalam sebulan ia mampu meraup omzet antara Rp 5 juta sampai Rp 8 juta.
“Sejak SMA saya memang sudah senang dengan pelestarian lingkungan. Berawal dari menanam pohon, lalu berlanjut pada bagaimana upaya pemanfaatan limbah sampah yang dibuang masyarakat,” ujar Andry saat ditemui Radar Jogja di rumah produksi Sawokecik, Padukuhan Wirosutan, Srigading, Sanden (25/10).
Dalam upaya pengolahan sampah itu, pemuda 26 tahun ini juga bekerjasama dengan bank sampah yang ada di desanya. Berkat kiprahnya pula ia sempat masuk dalam 10 besar finalis kategori Bidang Usaha Kreatif ajang Wirausaha Muda Pemula (WMP) dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Sementara untuk proses pengolahan limbah itu, Andry menerangkan kalau sampah kantong kresek mula-mula dipotong memanjang dengan lebar satu sentimeter. Setelah itu dilakukan penenunan menggunakan alat tenun tradisional hingga menjadi lembaran kain plastik. Kain plastik itu lalu dijahit atau dikombinasikan dengan berbagai produk fashion.
Ditanya kendala, ia mengaku untuk pemasaran produknya hampir tidak ada masalah. Hanya saja saat awal memulai usaha agak kesulitan, yakni terkait dengan upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pemanfaatan sampah plastik.
“Memang sulit mengajarkan dan memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa sampah plastik yang selama ini dibuang ternyata bisa dijadikan duit jika kita mampu mengolahnya. Sehingga saya kemudian memberikan pelatihan-pelatihan,” tandas Andry. (laz) Editor : Editor Content