Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berasal dari Penenun Arab, Berkembang Jadi Benda Multifungsi

Editor Content • Sabtu, 8 Oktober 2022 | 14:54 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Bagi orang Indonesia, seni kriya tekstil makrame memang tengah digandrungi sebagai hiasan kamar. Namun siapa sangka, ternyata makrame berasal dari timur tengah dan berkembang pesat di Eropa. Dalam perkembangannya pun makrame bisa dibuat berbagai produk fesyen maupun dekorasi.

Dosen Kriya Tekstil Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta I Made Sukanadi mengatakan, sejarah makrame yang ditulis dari buku Eksplorasi Simpul pada Tali Katun untuk Pelengkap Busana karya A.Devita 2007, diyakini muncul sekitar abad ke-13 oleh para penenun Arab. Hal tersebut juga dikuatkan dengan penggunaan kata yang berhubungan dengan makrame seperti Arabeschi arau Moreschi. Serta Migramah yang mengandung arti kata handuk bergaris-garis, hiasan pinggiran, atau selumbung bersulam. "Bagian timur negara Arab merupakan negara asal makrame, meskipun seni membuat simpul telah ditemukan pada relief Siria pada 850 sebelum Kristus," ujar Made kepada Radar Jogja kemarin (7/10).

Photo
Photo
Dosen Kriya Tekstil ISI Jogjakarta I Made Sukanadi.(DOKUMENTASI PRIBADI )

Setelah diketahui berasal dari negara Arab, seni makrame kemudian menyebar ke Spanyol dan berkembang di seluruh negara Eropa. Teknik mengolah bahan kain dari serat untuk dibuat menjadi simpul ini, digarap menjadi rantaian benang. Sehingga membentuk aneka rumbai dan jumbai dan diproduksi sebagai barang hias atau pendukung interior.

Sementara di nusantara, kerajinan menyimpul atau mengikat tali sudah lama dikenal. Sebagai contoh pada alat penangkap ikan seperti jala dan jaring. Seni menyimpul tali juga berkembang pada perlengkapan pakaian seperti topi, sarung tangan, kaos kaki, hingga keranjang. Seni simpul di Indonesia, juga berkembang pada karya seni yang tidak berorientasi pada seni praktis seperti elemen estetik interior. "Dapat disepakati bahwa makrame tergolong pada teknik kerajinan tangan klasik," ucap Made.

Kemudian dari segi fungsi, Made mengungkapkan kalau dalam perkembangannya, makrame bisa digunakan sebagai pelengkap busana. Misalnya produk tas, ikat pinggang, serta aksesoris seperti anting-anting, kalung, hingga gelang.

Makrame juga bisa diaplikasikan sebagai pembatas dinding. Penggunaan seni simpul makrame dipercaya bisa memancarkan kesan minimalis. Sebab tidak akan menimbulkan kesan ruangan sempit lantaran karakter desainnya yang berongga.

Selain itu, makrame juga bisa digunakan sebagai tirai penyaring sinar matahari agar ruangan tidak terlalu panas atau silau. Kemudian juga digunakan untuk taplak meja, hammock, bahkan kursi. Serta difungsikan sebagai sebagai gantungan dinding ruang tamu, ruang keluarga, dan kamar tidur. "Adapun tujuan penggunaan makrame di ruangan adalah untuk menambah estetika ruangan atau kamar," tandas Made. (inu/eno) Editor : Editor Content
#lifestyle #ISI #Dosen Kriya Tekstil