Ketua RT 22 Plosokuning V Iwan Triantoro mengaku, pagi itu mendengar suara ledakan. Buru-buru dia mendatangi lokasi dan melihat rumah tersebut sudah dipenuhi kepulan asap dari dalam. Tak selang lama, terjadi ledakan lagi yang lebih dahyat. Seketika itu rumah langsung porak poranda. Beberapa material seperti atap, rusuk, kayu, seng dan sebagainya terlempar ke rumah-rumah tetangga sekelilingnya. Akibatnya, delapan rumah mengalami kerusakan.
“Kerusakan paling parah ya di gudang itu. Lainnya rusak ringan, seperti kaca rumah pecah, plafon ambrol, dinding retak, genting melorot dan lain-lain. Paling parah selatan rumah penyimpanan bahan peledak, plafon dan temboknya retak,” ungkap Iwan di lokasi kemarin (22/4).
Dikatakan, radius kerusakan terjadi sampai 20 meter dari lokasi. Ledakan terdengar tiga kali, yang kedua paling dahsyat hingga timbul getaran. Usai itu kemudian timbul percikan api yang menyebabkan kebakaran. Sekitar 20 menit kemudian api berhasil dipadamkan dengan disemprot air menggunakan selang.
Kejadian seperti ini baru kali pertama dialami di Plosokuning V. Diprediksi kerugian atas peristiwa ini mencapai puluhan juta. Ketika disinggung pelaku penyimpan bahan peledak, dia mengaku tidak mengetahui siapa yang menyimpan bahan peledak di gudang tersebut.
Informasi yang diterima dari pemuda setempat, ada sekitar tiga kilogram bahan untuk meracik mercon. “Kabarnya masih simpang siur,” ucapnya. Kendati begitu, diduga bahan peledak mercon itu sengaja disimpan untuk mempersiapkan rutinitas pesta mercon menjelang Lebaran di Plosokuning.
Menurut Ketua RW 09 Plosokuning V Samidi, sebelum kejadian lokasi ini terbilang sepi dan belum pernah dijumpai adanya aktivitas nongkrong oleh anak muda. Namun dia menduga, bubuk-bubuk pemicu ledakan itu disimpan untuk mempersiapkan pesta mercon.
“Karena setiap Lebaran kayak pesta mercon. Kemungkinan baru disimpan wujud serbuk, karena mengacu ledakannya itu kan lebih dahsyat. Kalau sudah berbentuk mercon tidak sebesar itu. Kalau yang membuat saya kurang tahu. Tahunya hanya untuk menyimpan itu,” bebernya.
Tak selang lama terjadi ledakan, polisi mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi berhasil menemukan sejumlah barang bukti bahan peledak berupa serbuk berwarna kuning, serbuk arang hitam, dan bulatan kertas layaknya mercon jadi.
Radar Jogja mencoba konfirmasi terhadap keluarga pemilik gudang itu, namun mereka mengaku masih syok dan enggan menanggapi. Berdasarkan pantauan, di sekitar TKP juga berhamburan cacahan kertas sisa ledakan. Diduga kertas itu hendak dijadikan bahan untuk meracik bubuk mercon.
Sementara itu, Kapolsek Ngaglik Kompol Anjar Istriani mengatakan, hasil olah TKP berhasil mengamankan beberapa bahan diduga bubuk mercon dan seloncong mercon dari kertas. Bahan-bahan itu di temukan di sela-sela reruntuhan rumah milik Munadi di Plosokusing V RT 22 RW 09 Minomartani.
Dugaan sementara, suara ledakan berasal dari dua petasan besar. Kendati begitu, masih dilakukan penyelidikan lebih lanjut. “Hasil pengumpulan sementara ada dua petasan yang besar. Tetapi untuk hasil selanjutnya, nanti setelah dilakukan pemeriksaan,” terang polisi wanita ini usai olah TKP kemarin (22/4).
Dia menduga bahan-bahan petasan itu dibeli oleh warga dan disimpan di lokasi kejadian. Nantinya, bahan tersebut akan digunakan untuk membuat mercon. Sementara berdasarkan keterangan yang dia terima dari pemilik rumah bernama Munadi, saat kejadian rumahnya dalam keadaan kosong. Munadi sendiri tidak mengetahui bahwa rumahnya dijadikan tempat penyimpanan bahan-bahan mercon.
Atas peristiwa itu, polisi telah memeriksa lima orang sanksi. Baik pemilik rumah, maupun warga sekitar. Selanjutnya dilakukan identifikasi barang bukti berkoordinasi dengan tim Gegana.
“Setelah kami laksanakan sterilisasi pada TKP ditemukan ada tiga bahan dasar. Ada sulfur, florat, dan unsur bubuk arang,” ungkap Wadanden Gegana Polda DIJ AKP Suripto usai penyisiran dan identifikasi barang bukti berbahaya di lokasi.
Lebih lanjut dijelaskan, ketika unsur itu diramu dengan perbandingan yang sesuai maka menghasilkan low explosive alias bahan berdaya ledak rendah. Namun ketika itu berbentuk padat, cair dan campurannya tidak sesuai perbandingan, sangat berbahaya karena sifatnya sangat peka. Misalnya terkena panas, benturan dan gesekan dengan unsur lainnya akan berubah secara kimiawi membentuk zat-zat lain. Perubahannya cepat, disertai efek panas, tekanan dan suara tinggi.
“Berdasarkan hasil investigasi, ledakan dipicu faktor lingkungan, misalnya karena suhu panas tinggi, hewan-hewan yang bisa memicu, menghasilkan gesekan dan benturan lain antarzat kimia tersebut,” sebutnya.
Radius ledakan tergantung volume dari bahan peledak. Jika diukur dari skala perbandingannya satu sampai 10, maka besar ledakan itu diangka empat. Dan dilihat dari tingkat kerusakannya, termasuk low eksplosive, lantaran paling parah terpusat di satu titik.
AKP Suripto belum mengetahui berapa keseluruhan bahan perakit petasan itu. Sebab, sebagian sudah meledak dan hanya ditemukan sisa kecil berupa serbuk bubuk. “Kami hanya menemukan sedikit sampel yang masih utuh. Berdasarkan keterangan tadi sekitar 2 kilogram,” katanya.
Kabarnya ketiga bahan itu dibeli secara online. Masing-masih jenis dibeli di toko online yang berbeda. Dia mengimbau masyarakat agar tidak bermain mercon maupun membuat produksi dari bahan peledak. Sekalipun tujuan untuk hiburan, dinikmati ledakannya, sebaiknya jangan dilakukan karena risikonya besar. “Seperti yang terjadi saat ini, tentu akan merugikan,” ucapnya. (mel/laz) Editor : Editor Content