Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Potensi La Nina Hingga Awal Januari 2022

Editor News • Selasa, 2 November 2021 | 04:59 WIB
REKOR : Kasus Covid-19 harian di Jogjakarta terus melonjak. Terbaru adalah 1.807 kasus per 20 Februari 2022. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
REKOR : Kasus Covid-19 harian di Jogjakarta terus melonjak. Terbaru adalah 1.807 kasus per 20 Februari 2022. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menuturkan terjadi anomali iklim global di Samudera Pasifik. Tepatnya pada lintang garis ekuator atau khatulstiwa. Kondisi ini terjadi sejak dasarian III September 2021.

Berdasarkan indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah telah melewati ambang batas La Nina. Dengan nilai anomali pada dasarian III September 2021 mencapai  - 0.63°C, dasarian I Oktober 2021 mencapai - 0.61°C dan dasarian II Oktober 2021 mencapai - 0.92°C.

“Indeks ENSO bulan Oktober 2021 sebesar - 0.83°C menunjukkan ENSO dalam kondisi prasyarat La Nina lemah. Diprakirakan fenomena ENSO La Nina lemah dan dimungkinkan menjadi La Nina Moderat berlangsung hingga awal tahun 2022,” jelasnya dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/11).

La Nina di wilayah Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) berdampak pada peningkatan intensitas curah hujan bulanan  diatas normalnya. Mendekati puncak tertinggi pada awal musim penghujan antara Oktober hingga November 2021. Dampaknya peningkatan curah hujan yang cukup tinggi hingga 60 persen.

Tak berhenti, La Nina masih berlanjut hingga musim penghujan, tepatnya dari Desember 2021 hingga Februari 2022. Hanya saja dampak La Nina pada medio waktu ini akan semakin turun. Prakiraan berada dikisaran 20 persen hingga 60 persen.

“Namun perlu diperhatikan meskipun persentase peningkatan curah hujan relatif lebih kecil, namun dampak terhadap peningkatan bencana hidrometeorologi semakin tinggi. Terlebih dipuncak musim hujan kisaran Januari 2022,” katanya.

Potensi bencana yang terjadi adalah hujan disertai angin kencang, kilatan petir hingga badai. Dampak sekunder adalah potensi munculnya genangan air, banjir hingga tanah longsor. Adapula pohon dan baliho roboh akibat tertiup angin kencang.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi terkait. Kaitannya adalah mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Jogjakarta,. Salah satunya dengan melakukan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Dengan persiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air yang berlebih. Sehingga bisa menampung debit air hujan yang berlebih. Agar air dapat langsung tersalurkan kedalam tanah atau tersalurkan ke hilir,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News
#Staklim BMKG #bencana hidrometeorologi #la nina 2021