Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Warga Wadas Komitmen Tolak Penambangan Tanah Desa

Editor News • Jumat, 24 September 2021 | 01:05 WIB
TRAUMA: Keresahan warga masih menyimpan trauma atas bentrok pada medio Ramadan tahun ini. saat itu personel kepolisian melakukan tindakan kekerasan kepada warga. Kedatangan para personel kepolisian inilah yang membangkitkan trauma warga.  (DWI AGUS/RADAR
TRAUMA: Keresahan warga masih menyimpan trauma atas bentrok pada medio Ramadan tahun ini. saat itu personel kepolisian melakukan tindakan kekerasan kepada warga. Kedatangan para personel kepolisian inilah yang membangkitkan trauma warga. (DWI AGUS/RADAR
RADAR JOGJA - Pemuda Desa Wadas Purworejo Jawa Tengah Mohammad Azim menuturkan, ada 12 personel kepolisian yang mendatangi kampungnya. Dari total tersebut sebanyak 5 personel bersenjata lengkap. Kedatangan personel Polres Purworejo tersebut diakui olehnya membuat resah warga.

Personel kepolisian, lanjutnya, mengaku hanya membagikan masker kepada warga. Pertanyaan ini terlontar oleh warga yang melihat kedatangan polisi. Selain menggunakan mobil patroli, beberapa juga naik sepeda motor trail.

"Bisa dibilang cukup lucu ya, karena cuma bagi-bagi masker ataupun apa namanya patroli akan tetapi mereka datang dengan senjata lengkap. Ada 12 orang dan yang 5 ini pakai senjata lengkap dan tentu hal ini membuat warga resah," jelasnya ditemui di Kantor WALHI DIJ, di Kotagede, Kamis (23/9).

Keresahan warga menurutnya sangat beralasan. Warga masih menyimpan trauma atas bentrok pada medio Ramadan tahun ini. Azim menceritakan saat itu personel kepolisian melakukan tindakan kekerasan kepada warga.

Kedatangan para personel kepolisian inilah yang membangkitkan trauma warga. Datang dengan senjata lengkap meski hanya membagikan masker. Baginya cara ini sangatlah tidak tepat dan bijak.

"Warga sebetulnya bisa dikatakan hampir lupa dengan kekerasan itu, akan tetapi mereka datang membawa senjata lengkap dan ini menimbulkan trauma kembali," katanya.

Dia menegaskan bahwa warga Wadas bertahan dengan sikap yang sama. Menolak secara penuh kegiatan penambangan tanah di Desa Wadas. Upaya hukum terus dilakukan dan masih berlangsung.

"Sampai hari ini pemerintah Provinsi maupun Kabupaten ini nggak pernah mengindahkan suara warga. Sampai hari ini warga masih konsisten menolak pertambangan di desa," ujarnya.

Pemudi Desa Wadas Arofah melontarkan pernyataan yang sama. Dia mempertanyakan kedatangan aparat kepolisian bersenjata lengkap. Terlebih niatnya hanya membagikan masker kepada warga.

Bentrok dengan warga berlangsung 23 April 2021. Kekerasan tak hanya terjadi kepada kaum lelaki. Arofah menuturkan kaum ibu juga mendapatkan tindakan serupa.

"Dua hari lalu itu mereka juga datang ke Wadas katanya mau patroli kayak gitu tapi mereka dengan senjata. Kemarin itu datang lagi dengan gerombolan yang lebih banyak dengan modus membagi-bagikan masker," katanya.

Dia sempat bertanya kepada warga desa tetangga. Terkait adanya pembagian masker oleh aparat kepolisian. Hasilnya aksi bagi masker hanya berlangsung di kampung halamannya.

"Setelah dicek di beberapa desa yang lain ternyata mereka juga tidak ada membagikan masker. Jadi kenapa hanya Wadas yang dibagiin masker, seharusnya kan menyeluruh," ujarnya. (dwi/sky) Editor : Editor News
#walhi jogjakarta #Desa Wadas Purworejo Jawa Tengah