Bahkan juga tak berjarak dengan adik-adiknya meski berstatus Lurah Pangeran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Gusti Prabu mengetahui jika kondisi kesehatan kakaknya memang tidak fit. Terlebih usianya memang tidak lagi muda. Diketahui bahwa Gusti Hadi akan berusia 73 tahun pertengahan tahun ini.
"Ya memang beliau ini sudah gerah sepuh jadi beberapa terakhir memang fisik agak kurang fit. Kemarin terakhir masih aktif ngantor terus, lalu acara reuni, itu pasti dateng. Tidak dirasakan sakitnya," jelasnya ditemui kediaman Gusti Hadi di Kalurahan Muja-Muju, Umbulharjo, Rabu (31/3).
Satu hal yang paling dia ingat adalah pola makan almarhum. Walau memiliki riwayat sakit dan lanjut usia, tergolong tak pilih-pilih makanan. Termasuk melanggar sejumlah pantangan yang telah diberikan.
"Beliau ini engga mau diet, harusnya tidak boleh makan ini, makan itu tapi tetep makan saja," kisahnya.
Walau telah berusia lanjut, bukan berarti Gusti Hadi berdiam diri. Sosok ini masih sangat aktif dalam sejumlah kegiatan. Baik di dalam maupun di luar tembok Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bahkan saat ini masih aktif Penghageng Tepas Wahono Sarto Kriyo dan Penghageng Tepas Panitikismo.
Sebelum masuk rumah sakit, Gusti Hadi sempat berangkat ke Pracimosono Keraton Ngayogyakarta. Hingga akhirnya merasa tak enak badan dan sesak nafas. Setelahnya dirujuk ke RSUP dr. Sardjito menggunakan ambulance.
"Ini yang kemarin hari Senin (29/3) sempat ngantor di Pracimosono, nah ngantor sampai sana sesek terus manggil dokter. Dokter bilang kalau ini gejala jantung dan langsung dibawa ke ICCU Jantung (RS) Sardjito," katanya.
Mendengar kabar ini, Gusti Prabu langsung menuju RSUP dr. Sardjito. Setibanya di rumah sakit, dia hanya pasrah. Terlebih setelah melihat beragam instalasi alat bantu terpasang di tubuh kakaknya.
Sempat bertanya kepada dokter, Gusti Prabu mendapatkan sejumlah informasi. Seperti detak jantung sudah berkisar 40 hingga 50 persen. Hingga terpasangnya alat bantu pernafasan.
"Jadi saya melihat alat-alat itu begitu saya masuk di ICCU, saya sudah mau nangis itu saya. Karena ada alat bantu pernapasan terus saya lihat detak jantungnya sudah 40-50 persen naiknya gitu. Saya pulang saja tidak bisa tidur. Sampai setengah 2 malam baru bisa tidur," ujarnya.
Jenasah KGPH Hadiwinoto akan dimakamkan di Pemakaman di Hasta Renggo Kotagede. Kompleks pemakaman ini diperuntukan bagi trah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Rencananya akan dimakamkan di lokasi tersebut pukul 10.00 WIB.
"Jadi saya cuma mohon doa restu semua warga masyarakat kalau ada salah kekhilafan dari mas Hadi mohon maaf kemudian juga semoga amal ibadahnya juga diterima di sisinya dan mudah-mudah besok prosesi pemakaman juga lancar. Besok jam 10 pagi di Hasto Renggo Kotagede di sebelah istri saya," katanya.
Kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Jatiningrat menilai Gusti Hadi sebagai sosok yang tak pernah sambat. Sejatinya kondisi kesehatannya sudah menjadi rahasia umum kalangan Keraton. Hanya saja Gusti Hadi lebih memilih diam dan tak mengeluh.
Dalam pertemuan terakhirnya, pria yang akrab disapa Romo Tirun ini tak melihat ada gejala mencurigakan. Sosok Gusti Hadi masih memimpin rapat tim hukum Keraton Ngayogyakarta, Jumat (26/3). Tak ada keluhan atau cerita tentang kondisi kesehatan.
"Jadi jangan sampai menimbulkan kepanikan bagi orang lain, terutama pada familinya sendiri. Termasuk kepada saya tidak pernah mengeluh sedikit pun," kenangnya.
Sebagai Lurah Pangeran, sosok Gusti Hadi sangat mengayomi semua pihak. Termasuk para abdi dalem yang bergabung dalam lembaga Keraton. Mampu menerima masukan dan terbuka akan diskusi.
"Kami sebagai pembantu-pembantunya dalam bidang misal tim hukum terayomi. Justru beliau sangat aktif menerima semua permasalahan dan memecahkannya. Itu kesaksian saya sampai hari Jumat," katanya.(dwi/sky) Editor : Editor News