Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jadikan Teh Alternatif Bebas Kafein, Aman untuk Bumil

Editor Content • Selasa, 30 Maret 2021 | 16:09 WIB
DARI POTENSI ALAM: Shantidevi Sanliana Putri saat menikmati teh tisane racikannya yang terdiri atas bunga mawar, melati, dan krisan.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA )
DARI POTENSI ALAM: Shantidevi Sanliana Putri saat menikmati teh tisane racikannya yang terdiri atas bunga mawar, melati, dan krisan.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA )
 

 

 

RADAR JOGJA - Pandemi Covid-19 membuat warga menggali kembali potensi alam. Tujuan utamanya dapat melawan virus dengan mempertebal perlindungan diri. Salah satunya yang dilakukan Shantidevi Sanliana Putri dengan menggali kembali khasiat sebuah bunga.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Ibu satu putri ini mengaku sejak kecil kerap diberi minuman dengan bahan chrysanthemum. Terutama saat ia sedang mengalami panas dalam. “Dulu aku minumnya yang sudah dalam bentuk bubuk saset, tinggal seduh,” ujarnya saat ditemui di rumahnya (28/3).
Saat dewasa, perempuan yang akrab disapa Sansan ini kemudian menggali lebih dalam terkait chrysanthemum. Diketahui kemudian, bahan itu berasal dari bunga krisan atau seruni. Berbekal smartphone, Sansan mulai berselancar di dunia maya. Sampai didapatlah informasi tentang beberapa varian bunga yang baik bagi kesehatan. Seduhan bunga-bunga itu disebut dengan teh tisane. “Nah, mulailah saya tanam bunga telang,” ucap perempuan yang memenuhi halaman rumahnya dengan menanam bunga bernama latin clitoria ternatea itu.
Jadi bukan sekadar sedang booming, ternyata bunga telang tercatat dalam Kitab Weda. Oleh sebab itu, Sansan tertarik membudidayakan. Setelah mampu mengeringkan bunga telang dengan benar, mulailah Sansan mencobanya untuk dijadikan teh tisane. “Terus kok enak ya, akhirnya cari-cari yang lain,” ujar dia yang kini mulai berburu bunga impor dari Korea dan Tiongkok itu.
Sansan semakin giat berburu pengetahuan tentang teh tisane setahun belakangan. Sebab kegemarannya minum teh, menurutnya, harus mulai diperbaiki. Di mana daun teh, kendati sehat tetap mengandung kafein, dan itulah yang dihindarinya. “Sejak ada baby, kan butuh me time. Biasanya aku ngeteh. Tapi aku takut baby-ku sulit tidur, soalnya daun teh ada kafeinnya. Terus, ya beralih ke teh tisane,” ungkapnya malu-malu.
Selain berburu berbagai jenis bunga, Sansan juga mulai belajar mengkombinasikan bunga-bunga agar cocok diseduh secangkir. Koleksinya meliputi bunga mawar, bunga persik, bunga apel, melati, krisan, goji berry, chamomile, dan lavender.
“Bunga-bunga ini aman untuk ibu menyusui (busui) dan ibu hamil (bumil). Teh jadi lebih wangi dan varian harumnya bisa disesuaikan,” jelasnya kemudian mempersilakan Radar Jogja untuk mencoba.
Terpisah, Ketua Prodi Farmasi FKIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Apt. Sabtanti Harimurti Ph.D membenarkan teh tisane tidak mengandung kafein. Namun, dia tidak menyarankan teh dikonsumsi pada pagi hari. Sebab dapat menimbulkan rasa kantuk. “Kalau pagi hari, mending minum teh biasa supaya lebih bersemangat,” ujar perempuan yang juga gemar memasak ini.
Selain itu, Sabtanti mewanti-wanti mereka yang memiliki alergi terhadap bunga untuk tidak mencoba teh jenis ini. Lantaran teh tisane menyeduh bunga secara utuh. “Kan ada yang alergi serbuk sari, lebih baik tidak mencoba. Meskipun kandungan teh tisane bagus untuk kecantikan,” ujarnya. (laz) Editor : Editor Content
#Pandemi Covid-19