Van Gastel Bicara Kultur Tim PSIM, Cara Pemain Saling Memperlakukan Turut Jadi Perhatiannya

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 19:32 WIB
Skuad PSIM Jogja saat menjalani sesi latihan rutin. Fahmi Fahriza/Radar Jogja
Skuad PSIM Jogja saat menjalani sesi latihan rutin. Fahmi Fahriza/Radar Jogja

 

JOGJA - Pelatih PSIM Jogja Jean Paul Van Gastel tidak hanya menjadikan taktik dan kondisi fisik para pemain sebagai fondasi dalam membangun skuad. Cara pemain saling memperlakukan dan kultur yang berkembang di dalam tim juga menjadi perhatian pelatih asal Belanda itu.

Pandangan tersebut disampaikan Van Gastel ketika membicarakan fokus PSIM mengarungi BRI Super League 2026/2027. Menurutnya, periode persiapan tidak semata-mata digunakan untuk mencari hasil dalam pertandingan uji coba.

Baca Juga: PSS Sleman Kalah Tiga Kali Beruntun, Huistra Sebut Tak Ada yang Perlu Disalahkan

Ia lebih dulu ingin melihat hubungan antarpemain, kondisi fisik, cara bermain, hingga bagaimana para pemain membangun lingkungan di dalam skuad. "Bagi saya, selalu penting bagaimana hubungan antarpemain, cara kami saling memperlakukan, serta budaya yang ingin kami ciptakan," kata Van Gastel, Selasa (29/9).

Menurutnya, aspek tersebut menjadi bagian penting karena PSIM menghadapi perubahan komposisi pemain pada musim ini. Sejumlah pemain baru harus beradaptasi dengan rekan setim, sistem permainan, sekaligus lingkungan yang sudah terbentuk dari musim sebelumnya.

Ia tidak ingin proses tersebut hanya berhenti pada kecocokan teknis antarpemain. Ia juga ingin membangun lingkungan yang membuat seluruh anggota skuad dapat bekerja sebagai satu kesatuan.

"Saya merasa musim lalu sangat bagus. Kami jadi satu tim dan semua pemain menjalankan tugas dengan baik. Saya berharap itu bisa berlanjut," ujarnya.

Baca Juga: Pemulihan Cedera, Frederic Injai Dipastikan Tampil Bersama PSS Sleman November Depan

Pembangunan kultur itu kemudian menjadi salah satu dasar sebelum Van Gastel menentukan komposisi pemain. Ia mencontohkan, sejak pramusim memberi kesempatan kepada seluruh pemain untuk menunjukkan kemampuan dan melihat kombinasi yang paling sesuai dengan sistem permainan yang diterapkan.

Baginya, kemampuan individu saja tidak cukup. Pemain juga harus mampu menemukan hubungan yang tepat dengan rekan setimnya. "Saya melihat dan memberi kesempatan semua pemain untuk menunjukkan kemampuan," tuturnya.

Memasuki musim kedua bersama PSIM, proses itu kini mendapat tantangan baru. Laskar Mataram mengawali kompetisi dengan satu poin dari tiga pertandingan, setelah bermain imbang melawan Persita Tangerang serta menelan kekalahan dari Persebaya Surabaya dan Madura United.

Baca Juga: Jika Beruntung Bisa Lihat Tupai, Bringsu Jadi Spot Favorit Diskusi dan Bersantai Mahasiswa USD

Setelah pertandingan melawan Madura United, PSIM menjalani jeda dan kembali berlatih pada 27 September. Waktu itu menjadi kesempatan bagi tim untuk kembali membangun kondisi fisik dan mempersiapkan diri menghadapi pertandingan berikutnya melawan Persija Jakarta pada 10 Oktober.

Van Gastel sebelumnya menegaskan, hasil pada akhirnya tetap menjadi tujuan utama ketika kompetisi sudah berjalan. Namun ia melihat proses membangun tim sebagai sesuatu yang harus dilakukan lebih dahulu. "Tujuan besarnya harus didapat nanti di kompetisi, karena pada akhirnya itu yang paling penting," tandasnya. (iza/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
persebaya surabaya BRI Super League Jean Paul van Gastel madura united PSIM Jogja