JOGJA - Dua kelompok suporter PSIM Jogja, Brajamusti dan The Maident, memberikan apresiasi atas performa Laskar Mataram sepanjang putaran pertama BRI Super League 2025/2026. Meski demikian, mereka menekankan pentingnya menjaga fokus dan konsistensi tim demi memastikan PSIM mampu bertahan dan bersaing di kasta tertinggi sepak bola nasional pada putaran kedua.
Aspirasi itu disampaikan dalam forum dialog Guyub Sedulur yang digelar di Monumen PSSI (Wisma PSIM). Forum ini menjadi ruang komunikasi antara manajemen klub dan suporter untuk menyampaikan evaluasi sekaligus harapan terhadap perjalanan PSIM ke depan.
Presiden Brajamusti Muslich Burhanuddin mengapresiasi posisi PSIM yang kini berada di peringkat enam klasemen sementara. Ia menilai capaian itu patut disyukuri, mengingat PSIM berstatus sebagai tim promosi di musim ini.
"Saya mewakili Brajamusti dan rekan-rekan The Maident mengucapkan terima kasih dan salut kepada manajemen, tim pelatih, serta seluruh pemain atas kerja keras di putaran pertama," ujar pria yang akrab disapa Thole itu Jumat (16/1).
Namun demikian, Thole menegaskan, tantangan sesungguhnya masih menanti di putaran kedua. Ia mengingatkan agar seluruh elemen tim tidak cepat berpuas diri dan tetap menjaga konsistensi permainan demi mengamankan posisi PSIM di Super League. "Bagaimana rencana strategis manajemen untuk menghadapi putaran kedua nanti?," tanya Thole.
Menanggapi hal itu, Manajer First Team PSIM Jogja Razzi Taruna, menegaskan target tim tetap meraih hasil optimal di sisa kompetisi. Ia menyebut secara teknis, Pelatih Kepala Jean Paul Van Gastel menilai materi pemain yang ada saat ini sudah cukup kompetitif.
"Soal penambahan pemain, selain menimbang budget, kami sepenuhnya menyerahkan keputusan kepada Van Gastel. Kami selalu melibatkan pelatih dalam proses keluar-masuk pemain. Ke depannya pun demikian," terang Razzi.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kepercayaan dari suporter terhadap proses yang sedang dijalani tim pelatih dan manajemen. Meski terbuka terhadap masukan, ia berharap dukungan tetap diberikan secara positif dan konstruktif.
"Kami rekrut pelatih karena percaya pada kapasitasnya. Saya mohon agar teman-teman suporter juga memberi kepercayaan yang sama kepada tim dan pelatih. Meski begitu, pelatih pasti tetap terbuka mendengarkan masukan," tambahnya.
Selain isu teknis tim, persoalan aksesibilitas stadion turut menjadi perhatian suporter. Ketua Umum The Maident Rendy Agung Prasetya mendorong manajemen agar bisa lebih memprioritaskan kenyamanan dan keterjangkauan bagi penyandang disabilitas serta pelajar.
"Kami sarankan manajemen menyediakan alokasi tiket dan kursi khusus yang ramah bagi penyandang disabilitas. Selain itu, kami juga usulkan ada tiket kategori pelajar dengan harga yang lebih terjangkau dibanding tiket umum," tutur Rendy.
Menanggapi usulan ini, Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) PSIM Wendy Umar Seno Aji menjelaskan, pihaknya telah berupaya menyediakan fasilitas bagi penyandang disabilitas, meski masih memiliki keterbatasan di beberapa stadion "Saat di Stadion Mandala Krida (Liga 2), kami fasilitasi teman-teman disabilitas di tribun utara. Untuk Stadion Sultan Agung (SSA), kami sebenarnya telah menyediakan area di VIP Utara. Silakan berkoordinasi langsung dengan kami (panpel) untuk aksesnya," jelas Wendy.
Terkait tiket pelajar, Wendy menilai gagasan itu selaras dengan upaya regenerasi basis suporter PSIM Jogja. "Usulan tiket pelajar ini sangat bagus, senada dengan program PSIM Goes to School yang berkunjung ke SMP dan SMA di Jogja. Aspirasi ini kami tampung dan akan segera kami bahas mekanismenya di internal manajemen," ucapnya.
Dirut PSIM Jogja Yuliana Tasno menutup forum dengan menegaskan komitmen manajemen untuk terus membuka ruang dialog dengan suporter. Menurutnya, masukan dan kritik konstruktif menjadi bagian penting dalam membangun PSIM yang lebih kuat dan berkelanjutan.
"Kami akan menampung dan menindaklanjuti semua saran, masukan, serta kritik yang membangun demi kemajuan PSIM," tandas sosok yang akrab disapa Liana ini. (iza/laz)