JOGJA - Padel merupakan perpaduan olahraga antara tenis lapangan dan squash. Padel menawarkan permainan yang menyenangkan, menantang, dan mudah dipelajari oleh pemula.
Yang membedakan olahraga padel, hanya pada peraturannya. Bola boleh memantul pada kaca atau dinding di area lapangan seperti olahraga squash. "Di padel itu memantul ke kaca sebelum memantul lagi ke kaca bawah itu boleh diambil. Cuma kalau langsung ke kaca itu mati. Kurang lebih seperti itu," jelas pelatih padel asal Jogja Achad Imam Jumat (25/4).
Meskipun ukuran lapangan padel dan tenis hampir sama, namun alat yang digunakan berbeda. Raket padel terbuat dari bahan fiberglass dan memiliki gagang lebih pendek. Sedangkan raket tenis lapangan, gagangnya lebih panjang. Fungsinya untuk memberikan pukulan lebih keras. Raket yang digunakan juga menggunakan senar yang biasa terbuat dari nilon.
Padel sendiri, harus dimainkan dengan dua pasang pemain atau ganda. "Kalau permainannya tidak ada single, cuma ada ganda putra atau putri, ataupun ganda campuran," bebernya.
Kemudian untuk pertandingan, memiliki tiga set. Yakni 15-30-40. Lalu bola yang digunakan, disebutnya kiha berbeda. Bola padel, memiliki ukuran yang lebih kecil.
Karena tergolong olahraga baru, kini belum ada pengurus daerah (pengda) khusus padel di DIY. Hanya saja, kepengurusan di DIY telah didaftarkan ke Pengurus Besar (PB) Padel.
Disinggung terkait atlet padel, jumlahnya masih terbatas. Sebab para atlet padel masih didominasi oleh atlet dari tenis lapangan. “Itu sebagian besar atlet Jogja berasal dari tenis beralih ke padel," ucap Imam. (ayu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita