Berikut wawancara Jawa Pos Radar Jogja dengan penyerang kelahiran Jepara, Jawa Tengah itu, Minggu (5/12).
Sebagai pemain yang pernah ditangani oleh Amin -sapaan Elwizan Aminudin- bagaimana tanggapanmu?
Saya dari awal memang sudah agak curiga waktu pulang dari Timnas. Kan dia pernah di Timnas U-18 waktu untuk persiapan training camp (TC) ke Thailand. Kalau membahas tentang kesehatan itu, kayak mengelak. Ya kayak nyari pembicaraan lain dan orangnya kayak kurang paham.
Lantas, pengalaman selama ditangani Amin di PSS seperti apa? Adakah keanehan yang kamu alami?
Waktu itu pas vaksin. Biasanya kalau dokter kayak Ikatan Dokter Indonesia itu banyak di Jakarta. Kan bisa vaksin di Jakarta kenapa harus di Jogja? Waktu itu alasannya di Jakarta vaksin Sinovac habis. Padahal selain Sinovac kan ada yang lebih bagus. Saya jadi curiga di situ. Dari hal-hal kecil kayak gitu ada, yang sepele.
Di Timnas, kamu bersahabat baik dengan Ernando Ari. Apakah dia sempat bercerita soal kejadian yang menimpanya di Timnas
Waktu itu yang di Timnas, Nando terus marah-marah dan curhat ke saya. Dia bilang test-test terus itu dokter nggak jelas itu, karena waktu pulang di Timnas harus operasi malah disuruh nggak operasi.
Nah, pas kemarin ada berita itu, dia bilang nggak mau kalau teman-nya senasib kayak dia dulu. Saya juga lihat beritanya yang Bang Leo.
Saat ini kamu mengalami cedera Medial Collateral Ligament (MCL) kaki kirimu dan dalam waktu dekat akan menjalani operasi. Apakah tindakan operasi merupakan saran dari Amin?
Iya dia juga. Terus habis itu saya minta hasilnya langsung sama dia. Terus dikasih, lalu saya sodorin ke dokter yang saya kenal juga dari Timnas. Katanya bilang operasi saja nggak apa-apa daripada nanti kumat-kumatan.
Kamu cedera sebelum liga bergulir dan bahkan saat itu kamu harus melewatkan pertandingan di series 1. Saat itu apa yang disampaikan Amin, menurutmu wajar tidak diagnosis yang diberikan?
Saya cedera di kaki kiri, kena pas mau series 1 di Cibinong, Bogor. Saat itu sudah penguatan terus seminggu sudah enak ikut latihan, lalu kedua kena lagi pas buat shooting. Habis itu sembuh terus sekitar tiga Minggu bisa main lawan Persib Bandung di series 2. Habis itu latihan dan kena lagi.
Sebenarnya saya sudah minta test Magnetic Resonance Imaging (MRI) waktu cedera yang kedua. Tapi dokter Amin bilang nggak apa-apa. Bilangnya nggak apa-apa ini. Nggak perlu MRI. Nanti kamu malah gimana-gimana. Saya juga sempat minta MRI sama fisioterapis. Waktu di-acc MRI itu, sudah kena yang ketiga kalinya.
Bagaimana menurut kamu keseharian Amin saat di PSS?
Di luar cedera itu, orang-nya baik. Tapi ya tergantung sama orangnya siapa. Kadang juga marah-marah nggak jelas. Waktu di Boyolali pas latihan habis kena kan saya nggak bisa apa-apa. Saya cuma bisa duduk sambil lihat teman latihan tapi malah dimarahi sama dia. Saya dibilang kamu pemain Timnas harus jadi contoh yang bagus. Lalu saya jawab, saya kayak gini nggak bisa apa-apa terus mau latihan apa? Habis itu dia diam terus pergi. Saya nangis kan di situ, terus ada Mas Ega Rizky datang. Dia bilang sudah nggak apa-apa nangis saja. Wong lagi cedera kok. (ard/din) Editor : Editor Content