JOGJA - Pelaksanaan program Mas Jos (Masyarakat Jogja Olah Sampah) di Kelurahan Gunungketur, Kemantren Pakualaman, Kota Jogja, membuahkan hasil signifikan. Gerakan pengelolaan sampah berbasis warga itu berhasil menekan volume sampah residu hingga sekitar 70 persen, seiring semakin tingginya kesadaran warga dalam memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah tangga.
Warga Kelurahan Gunungketur yang juga Pengelola Data Bank Sampah wilayah tersebut, Sri Dwi Mayanti mengungkap penurunan volume sampah sangat terasa dibandingkan periode sebelumnya.
Dari total akumulasi sampah yang sebelumnya mencapai ratusan ton, kini pengurangannya mencatatkan angka hingga sekitar 150 ton. Rinciannya pada tahun 2025 produksi sampah di Kelurahan Gunungketur mencapai 211,64 ton, sementara di tahun 2026 hanya 62,57 ton.
Baca Juga: BGN Uji Coba MBG Prasmanan pada Dua Sekolah di DIY, Kepuasan Capai Skor 5/5
"Penerapan pemilahan sampah di wilayah kami sudah berjalan ketat. Jika sampah residu tidak dipilah dari rumah tangga, maka tidak akan diangkut oleh petugas transporter," ujar Maya sapaannya kepada Radar Jogja, Selasa (6/10/2026).
Ia membeberkan, gerakan Mas Jos di Gunungketur menyasar 36 RT. Setiap bulannya, sosialisasi rutin digelar melalui pertemuan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di tingkat RT untuk membiasakan lima langkah Mas Jos. Meliputi pemilahan sampah sesuai jenis, penyetoran sampah anorganik ke bank sampah, pengolahan sampah organik, menghabiskan makanan, serta penggunaan wadah berulang.
Maya menegaskan, keberhasilan gerakan Mas Jos tidak lepas dari status Kelurahan Gunungketur yang merupakan pilot project awal pengelolaan sampah di Kota Jogja. Sehingga infrastruktur pengolahan sampah organik maupun anorganik terus diperkuat melalui berbagai fasilitas pendukung.
Baca Juga: Muhammadiyah Kebumen Usul Syarat Calon Kepala Desa Minimal SMA, Ini Alasannya...
Misalnya untuk pengolahan sampah organik, di tiap RW kini difasilitasi puluhan titik biopori, baik dari bantuan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dana Keistimewaan, hingga fasilitas sumur biopori kelurahan. Selain itu warga juga memanfaatkan komposter, eco-enzyme, galon tumpuk, hingga budidaya maggot.
Sementara dari sektor sampah anorganik, aktivitas bank sampah di wilayah Kelurahan Gunungketur mencatatkan volume pengumpulan rata-rata mencapai 2 ton atau sekitar 2.000 kilogram per bulan. Aktivitas ini juga memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat dengan nilai omzet berkisar Rp 2 juta hingga Rp 4 juta per bulan.
Berkat konsistensi pengelolaan sampah tersebut, Bank Sampah Gunungketur diketahui pernah berhasil meraih Juara 2 dalam ajang Anugerah Mas Joss Award 2026. Tim yang menangani pengelolaan sampah secara berkala juga melakukan pencatatan pemilihan melalui Sistem Informasi Volume Sampah (SIMHOSA) milik DLH Kota Jogja.
“Kami rutin melakukan evaluasi berkala per tiga bulan," tegas Maya.
Baca Juga: Ternak Mati Mendadak Jangan Disembelih, Pemkab Gunungkidul Siapkan Kompensasi
Terpisah, Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja Supriyanto menyampaikan, partisipasi masyarakat dalam program Mas Jos terus mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2025, volume sampah yang berhasil dikelola dari tingkat hulu tercatat sekitar 21,20 ton per hari. Angka tersebut melonjak menjadi 47,68 ton per hari pada tahun 2026, atau naik sekitar 124,9 persen.
Menurutnya, perkembangan gerakan Mas Jos juga terlihat nyata dari bertambahnya keterlibatan warga. Saat ini sudah terdapat sekitar 40.742 Keluarga Mas Jos, disokong keberadaan bank sampah yang jumlahnya meningkat dari 698 unit pada 2025 menjadi 713 unit pada 2026.
Melalui berbagai skema gerakan Mas Jos seperti pengolahan ember organik, pembuatan biopori, bank sampah, hingga pengelolaan sampah daun, Kota Jogja kini mampu mengelola sekitar 47,68 hingga 50 ton sampah per hari. Jika dilihat dari estimasi total timbulan sampah kota berkisar 300 ton per hari, program pengurangan dari hulu ini telah menyumbang sekitar 16 hingga 17 persen reduksi sampah harian.
Baca Juga: Tegangnya Nobar di Warkop saat Indonesia Juarai FIFA ASEAN Cup usai Tumbangkan Thailand
Dampak dari efisiensi ini terasa cukup besar pada beban pembuangan akhir. Supriyanto menyebut, berkat Mas Jos Kota Jogja tidak lagi membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan selama beberapa bulan berturut-turut pada tahun 2026.
Menurut Supriyanto, indikator keberhasilan program yang paling konkret dan dirasakan langsung oleh warga adalah lahirnya perubahan perilaku dalam memilah serta mengolah sampah rumah tangga. Partisipasi puluhan ribu keluarga serta bertambahnya bank sampah aktif menjadi bukti hidup dari pergeseran budaya tersebut.
Baca Juga: Jalani Laga Debut di EPA 2026/2027, Tim Muda PSIM Jogja Petik 4 Kemenangan dari 6 Laga Kontra Arema
Meski gerakan Mas Jos sudah cukup optimal, tetap ada target peningkatan pada penanganan sampah organik basah sebesar 60 ton per hari. Jika dibandingkan dengan capaian pengelolaan hulu saat ini yang mencapai 47,68 ton per hari, tingkat ketercapaian secara umum upaya pengurangan sampah organik telah menyentuh sekitar 79,5 persen.
"Perubahan paling signifikan sejak Mas Jos diterapkan adalah munculnya budaya baru. Sampah tidak lagi dipandang sekadar limbah yang harus dibuang, tetapi dipilah, diolah, dan sebagian memiliki nilai ekonomi,” terang Supriyanto. (inu)
Editor : Heru Pratomo