JOGJA - Jogja Last Friday Ride (JLFR) akhirnya buka suara terkait polemik yang terjadi.
Mereka menyatakan kesiapannya untuk evaluasi dan perbaikan jika memang ada kekurangan.
Sejak awal JLFR tidak pernah lahir sebagai ajang menguasai jalan atau menghalangi masyarakat beraktivitas.
Namun sebagai ruang bersama untuk merayakan budaya bersepeda.
Sekaligus mengingatkan bahwa jalan adalah ruang publik yang seharusnya dapat dinikmati oleh semua pengguna jalan secara adil, aman, dan saling menghormati.
JLFR menyadari setiap kegiatan di ruang publik harus diselenggarakan secara tertib, menghormati aturan, serta meminimalkan dampak terhadap masyarakat.
Baca Juga: Chelsea Resmi Datangkan Marco Palestra dari Atalanta, Dikontrak Selama 7 Tahun
“Apabila terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya, kami terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan,” ujar perwakilan JLFR melalui keterangan tertulis kepada Radar Jogja, Kamis (2/6/2026).
Namun demikian, JLFR juga berharap ada pendekatan yang dilakukan kepada komunitas dilakukan secara proporsional, humanis, dan mengedepankan dialog.
Sebab keselamatan, ketertiban, dan penghormatan terhadap hukum adalah tujuan bersama.
Bukan alasan untuk menghilangkan ruang ekspresi warga negara yang dilakukan secara damai.
Menurut JLFR, kota yang baik bukanlah yang hanya memberi ruang kepada kendaraan bermotor, melainkan kota yang juga memberi tempat bagi manusia.
JLFR tidak ingin ketika ada sebuah aktivitas untuk bersepeda, berjalan kaki, atau berkumpul dalam sebuah kegiatan komunitas muncul sebagai gangguan yang harus segera disingkirkan.
Baca Juga: Pemerintah Perluas Ruang Partisipasi Publik, Terima Aspirasi dari Mahasiswa secara Terbuka
JLFR menegaskan, budaya berlalu lintas tidak dibangun melalui saling menyalahkan.
Melainkan melalui saling memahami, saling menghormati, dan bersama-sama menciptakan ruang publik yang aman, inklusif, dan berkeadilan.
“Peristiwa ini hendaknya menjadi momentum bagi semua pihak, komunitas, pemerintah, aparat, dan masyarakat untuk kembali berdialog mengenai bagaimana ruang jalan dikelola secara lebih adil,” tegas Komunitas JLFR. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin